Kritik Menohok Milanese: Lini Belakang Inter Milan Terlalu ‘Dermawan’ di Liga Champions

Empat kekalahan yang diderita wakil-wakil Italia di matchday 2 fase liga Champions League 2026-27 mendapat sorotan tajam dari mantan pesepak bola sekaligus manajer olahraga ternama Italia, Mauro Milanese.

Saat diwawancarai oleh TMW Radio, Milanese membedah berbagai kelemahan taktis tim-tim Serie A saat berlaga di panggung Eropa.

Fokus utamanya tertuju pada rapuhnya koordinasi pertahanan, termasuk kebiasaan buruk Inter Milan yang sering membuang poin akibat kesalahan sendiri.

Sindiran untuk Inter Milan: “Satu Gol Gratisan di Level Ini Harus Dibayar Mahal”

Dalam analisisnya mengenai kekalahan Inter Milan dari Club Brugge, Milanese menyoroti kerapuhan fase bertahan I Nerazzurri yang terkesan ‘kembali’ memberi hadiah gol (regalo) kepada lawan.

“Fase bertahan harus segera dibenahi, termasuk di kubu Inter, di mana gol seolah selalu diberikan secara ‘gratis’ kepada lawan, dan di level kompetisi tertinggi seperti Liga Champions, kesalahan seperti itu pasti harus dibayar mahal,” ujar Milanese.

Menurut Milanese, kelengsangan sesaat atau kesalahan konyol di lini belakang yang mungkin masih bisa ditoleransi di Serie A akan menjadi celah fatal yang langsung dimanfaatkan oleh klub-klub Eropa.

Sorotan untuk Roma: Kebobolan Tiga Gol dari Bola Mati

Tak hanya Inter, Milanese juga menyayangkan hasil buruk yang didapat wakil Italia lainnya seperti AS Roma. Ia menggarisbawahi kegagalan koordinasi set-piece yang merusak performa tim secara keseluruhan.

“Sangat buruk ketika Anda kebobolan tiga gol dari situasi sepak pojok seperti Roma. Saya berharap masalah ini tidak menghapus performa bagus mereka saat melawan Real Madrid. Tiga eksekusi bola mati telah mengubah segalanya. Sangat disayangkan karena tim-tim Italia kebobolan terlalu banyak gol,”

Dinamika Napoli: Hubungan Kevin De Bruyne dan Massimiliano Allegri

Selain peta persaingan Liga Champions, Milanese memberikan pandangannya terkait situasi di kubu Napoli, khususnya mengenai peran sang maestro Kevin De Bruyne di bawah asuhan pelatih Massimiliano Allegri.

“Ada waktu seminggu penuh untuk memahami apa yang diinginkan seorang pelatih. Saya pikir De Bruyne memiliki kecerdasan taktis untuk tahu apa yang harus dilakukan,”

“Saya melihat De Bruyne bersama Belgia dan dia tampil sangat luar biasa, menurut saya tidak ada begitu banyak feeling (keselarasan) antara dirinya dengan Allegri. Bagaimanapun, seorang pemain harus tetap mengikuti instruksi, meskipun dia tidak begitu percaya pada sang pelatih. Lagipula pelatih tidak memberi tahu Anda apa yang harus dilakukan setiap saat, jadi sangat penting bagi semua pemain untuk memiliki pemikiran yang sama, baik saat menguasai bola maupun tanpa bola.”

Peringatan dari Mauro Milanese menjadi alarm keras bagi Inter Milan dan klub-klub Serie A lainnya.

Jika ingin bersaing di level tertinggi Eropa, pembenahan koordinasi pertahanan dan kedisiplinan dalam mengeksekusi skema taktis adalah syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*