
Davide Frattesi mengungkapkan perasaannya setelah meninggalkan Inter Milan dan bergabung dengan Lazio pada musim panas lalu.
Gelandang Italia itu menyebut tiga tahunnya bersama Nerazzurri penuh emosi yang tidak akan terulang, tetapi kini ia kembali menikmati sepak bola setelah mendapatkan kepercayaan lebih besar di Lazio.
Davide Frattesi menjadi pusat perhatian dalam konferensi pers Timnas Italia di Coverciano. Salah satu topik utama yang dibahas tentu saja kepindahannya dari Inter Milan ke Lazio pada penghujung bursa transfer musim panas.
Transfer tersebut menjadi babak baru dalam karier Frattesi setelah periode yang cukup berliku bersama Nerazzurri.
Di Lazio, Frattesi langsung menunjukkan performa positif. Menurut pengakuannya sendiri, kepercayaan yang diberikan kepadanya membuat ia kembali menemukan sesuatu yang sempat hilang, yakni kesenangan bermain sepak bola.
Frattesi mengakui bahwa masalahnya di Inter bukan hanya berkaitan dengan kualitas permainan, tetapi juga konsistensi mendapatkan kesempatan bermain.
Ia mengingat kembali periode sulit yang dialaminya.
“Semua berawal dari musim lalu ketika saya tidak mendapatkan kontinuitas, juga karena memang kondisi saya tidak baik. Bagi saya itu adalah tahun yang sulit,” ujar Frattesi.
Menurutnya, kepercayaan dari klub dan pelatih bisa memberikan perubahan besar terhadap seorang pemain.
“Ketika Anda diberi kepercayaan, Anda bisa kembali melaju dengan sangat cepat. Saya senang bisa memulai seperti ini dan datang ke sini dalam kondisi seperti ini,”
Frattesi bahkan mengatakan bahwa dirinya kini kembali merasakan kesenangan yang pernah ia miliki ketika masih bermain di Sassuolo.
Tiga Tahun di Inter Penuh Emosi
Meski telah meninggalkan Inter, Frattesi tidak menutupi bahwa dirinya memiliki kenangan yang sangat kuat selama tiga tahun berada di Giuseppe Meazza.
Ia menegaskan bahwa kebahagiaan yang dirasakan di Lazio berbeda dengan apa yang dialaminya di Inter.
“Selama tiga tahun di Inter, saya mengalami momen-momen yang tidak bisa diulang dalam hal emosi,” kata Frattesi.
Namun, perjalanan tersebut juga tidak selalu berjalan mulus.
Menurutnya, setelah musim pertama yang berjalan lancar, ia mengalami periode dengan pasang surut performa dan menit bermain.
“Tapi, ada pasang surut, dengan titik terendah yang sangat rendah dan titik tertinggi yang sangat tinggi,”
Frattesi kemudian menegaskan satu hal penting dalam karier seorang pemain: kesempatan bermain.
“Di sebuah tempat, Anda hanya bisa benar-benar bahagia jika bermain. Sekarang saya sangat bahagia karena kembali bersenang-senang,”
Gattuso Punya Peran Besar dalam Kepindahan
Salah satu sosok yang memiliki pengaruh besar dalam keputusan Frattesi pindah ke Lazio adalah Gennaro Gattuso.
“Gattuso sering menelepon saya selama musim panas. Dia selalu dekat dengan saya dan kami langsung cocok,” ungkapnya.
“Saya pergi ke Lazio karena memang ingin kembali ke sana dan karena ada dia. Dia memainkan peran yang sangat penting dalam pilihan saya,”
Frattesi Tidak Menyesal Bertahan Lebih Lama di Inter
Kepindahan Frattesi ke Lazio pada penghujung bursa transfer membuat muncul pertanyaan apakah ia seharusnya meninggalkan Inter lebih cepat.
Namun, sang pemain tidak melihatnya seperti itu.
Frattesi merasa keputusan bertahan di Inter sebelumnya tetap memiliki alasan yang kuat.
Ia datang dari musim bersama Simone Inzaghi yang menghadirkan banyak momen besar, termasuk gol-gol penting dan pengalaman emosional di Liga Champions.
Kemudian, ketika Cristian Chivu mengambil alih tim, Frattesi mengaku telah berbicara dengan sang pelatih.
Percakapan tersebut membuatnya memilih untuk tidak memaksakan kepindahan.
“Saya tidak berpikir saya pergi terlambat. Saya berbicara dengan Chivu dan kami mengatakan beberapa hal yang membuat saya yakin untuk tidak memaksakan diri pergi, juga karena saya mencintai lingkungan tersebut,” jelasnya.
Dengan demikian, Frattesi tidak menganggap keputusannya bertahan di Inter sebagai sebuah kesalahan.
Frattesi Bicara Persaingan Scudetto
Frattesi juga mendapat pertanyaan mengenai awal musim Lazio yang cukup mengejutkan.
Lazio memulai musim dengan hasil yang berada di luar ekspektasi banyak pihak. Frattesi sendiri mengaku tidak menyangka timnya mampu memulai kompetisi dengan cara tersebut.
“Sejujurnya, saya tidak menyangka. Kami memulai dengan antusiasme yang rendah setelah Mantova dan situasinya tidak terlihat terlalu bagus,”
Namun, perubahan mulai terjadi setelah terbentuknya atmosfer positif di ruang ganti.
“Yang saya sukai adalah terciptanya kelompok yang bagus. Itu membuat perbedaan karena Anda bisa melewati kekecewaan dengan baik dan kembali mengisi energi,”
Ketika ditanya mengenai peluang Lazio dalam persaingan Scudetto, Frattesi justru memberikan jawaban singkat dan melempar sorotan kepada mantan klubnya, Inter.
“Untuk Scudetto, tanyakan kepada Inter dan Roma.”

Leave a Reply