6 Kekalahan dalam 7 Laga Terakhir, Alarm Bahaya Inter di Liga Champions

Inter Milan mendapat sorotan setelah mencatat hasil kurang meyakinkan di Liga Champions. Kekalahan tipis dari Real Madrid di Santiago Bernabéu membuat perhatian kembali tertuju pada performa Nerazzurri di Liga Champions, terutama karena lini pertahanan mereka belum mampu memberikan konsistensi seperti yang diharapkan.

Dalam Tujuh pertandingan terakhir Inter di Liga Champions, Nerazzurri tercatat menelan Enam kekalahan.

Hasil buruk Inter di Liga Champions menjadi perhatian karena performa tersebut sangat berbeda dengan apa yang diperlihatkan tim ketika bermain di kompetisi domestik.

Inter mampu tampil agresif, menciptakan banyak peluang, dan mencetak gol secara konsisten di Serie A.

Bahkan ketika tertinggal dua gol dari salah satu rival utama dalam perburuan Scudetto, Nerazzurri mampu menunjukkan karakter untuk bangkit.

Namun, ketika menghadapi klub-klub besar Eropa, ceritanya berbeda.

Pertahanan Inter lebih sering terekspos, sementara peluang yang diciptakan tidak selalu mampu dikonversi menjadi gol.

Tuttosport menilai perbedaan level tersebut menjadi salah satu alasan mengapa permainan Chivu belum memberikan hasil yang sama di panggung Eropa.

Salah satu hal yang sulit dibantah adalah kualitas permainan Inter di bawah Chivu.

Nerazzurri tetap berusaha bermain dominan, menguasai bola, membangun serangan dari belakang, dan menekan lawan.

Di Serie A, pendekatan tersebut menghasilkan banyak peluang dan gol.

Namun, Liga Champions menghadirkan persoalan berbeda.

Klub-klub elite Eropa mampu bertahan dengan lebih baik sekaligus menghukum kesalahan dengan lebih cepat. Ketika Inter kehilangan keseimbangan, lawan memiliki kualitas individu untuk langsung memanfaatkannya.

Di sinilah perbedaan antara Serie A dan Liga Champions mulai terlihat.

Inter masih berusaha memainkan sepak bola yang sama, tetapi level lawannya membuat margin kesalahan menjadi jauh lebih kecil.

Inilah Perbedaan Chivu dengan Inzaghi

Chivu mewarisi sistem dasar 3-5-2 dari Simone Inzaghi.

Namun, ada perbedaan penting dalam cara sistem tersebut digunakan.

Inter era Inzaghi tidak hanya mengandalkan penguasaan bola. Ketika diperlukan, Nerazzurri mampu turun lebih dalam, mempersempit ruang, kemudian melakukan serangan balik dengan cepat.

Perhatian terhadap preventive marking atau penjagaan antisipatif juga menjadi salah satu kekuatan penting Inter di era Inzaghi.

Pendekatan tersebut membuat Inter memiliki keseimbangan antara permainan menyerang dan perlindungan terhadap pertahanan.

Catatan statistik di Liga Champions menunjukkan betapa efektifnya era tersebut.

Sebelum Inzaghi datang, Inter bahkan kesulitan melewati fase grup Liga Champions. Di bawah Inzaghi, Inter memainkan 44 pertandingan di kompetisi tersebut dan hanya menelan sembilan kekalahan.

Dua kekalahan lainnya terjadi di final, masing-masing melawan Manchester City dan Paris Saint-Germain.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Inter era Inzaghi memiliki kemampuan bertahan hidup di Liga Champions.

Inter Asuhan Chivu Lebih Dominan, tetapi Lebih Rentan

Di sinilah tantangan terbesar Chivu.

Pelatih asal Rumania tersebut ingin Inter tetap bermain agresif dan dominan. Gaya itu membuat permainan Nerazzurri terlihat lebih atraktif dan menghibur.

Tetapi ada konsekuensi yang harus dibayar.

Ketika menghadapi tim yang memiliki kualitas individu lebih tinggi, ruang yang ditinggalkan Inter dapat berubah menjadi masalah besar.

Di Eropa, lawan memiliki kemampuan untuk mengeksploitasi ruang tersebut dengan jauh lebih efektif dibandingkan klub-klub Serie A.

Akibatnya, keseimbangan antara gol yang dicetak dan gol yang kebobolan menjadi persoalan.

Inter mampu menciptakan permainan yang menarik, tetapi hasil akhirnya belum sesuai dengan kualitas permainan yang ditampilkan.

Kekalahan dari Real Madrid Menjadi Contoh

Pertandingan di Santiago Bernabéu menjadi gambaran yang cukup jelas.

Inter tetap berusaha bermain dengan identitasnya. Nerazzurri tidak datang hanya untuk bertahan dan menunggu kesempatan.

Namun, melawan Real Madrid, setiap kesalahan kecil memiliki konsekuensi besar.

Kekalahan tipis tersebut kembali memperlihatkan bahwa Inter masih membutuhkan peningkatan ketika menghadapi klub-klub dengan kualitas tertinggi.

Bukan berarti pendekatan Chivu harus ditinggalkan.

Justru tantangannya adalah bagaimana mempertahankan sepak bola dominan tersebut sembari membuat struktur pertahanan jauh lebih sulit ditembus.

Kritik terhadap performa di Liga Champions tidak boleh menghapus keberhasilan Chivu di kompetisi domestik.

Inter berhasil meraih Scudetto dan Coppa Italia, sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa pendekatan sang pelatih bekerja dengan sangat baik di Italia.

Kualitas individu Inter juga memberikan keuntungan besar ketika menghadapi lawan-lawan Serie A.

Nerazzurri memiliki kedalaman skuad dan kualitas pemain yang memungkinkan mereka mendominasi pertandingan.

Karena itu, performa domestik dan Eropa harus dipisahkan ketika melakukan evaluasi terhadap Chivu.

Masalahnya bukan apakah sepak bola Chivu efektif atau tidak.

Masalah utamanya adalah seberapa efektif sepak bola tersebut ketika level lawan meningkat drastis.

Liga Champions Memaksa Inter Mengubah Pendekatan

Inilah pekerjaan rumah terbesar Chivu.

Di Serie A, Inter dapat memainkan sepak bola agresif dengan risiko yang relatif lebih terkontrol.

Di Liga Champions, risiko yang sama bisa berujung pada gol.

Karena itu, Inter mungkin tidak harus mengubah identitasnya secara total, tetapi perlu memiliki versi berbeda ketika menghadapi klub elite Eropa.

Kemampuan untuk mengontrol pertandingan harus berjalan beriringan dengan kemampuan mengontrol risiko.

Inter era Inzaghi telah menunjukkan bahwa bermain pragmatis pada momen tertentu tidak selalu berarti kehilangan identitas.

Justru kemampuan mengubah pendekatan sesuai situasi menjadi salah satu alasan mereka mampu bertahan dalam persaingan Eropa.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*