Bisseck Ungkap 3 Penyerang Paling Sulit Dihadapi: Haaland, Kane, dan Yamal

Bek Inter Milan, Yann Bisseck membahas pengalaman di lapangan, tetapi juga sisi pribadinya yang jarang diketahui publik, termasuk kecintaannya pada pendidikan dan membaca buku.

Dalam wawancara bersama BILD, Bisseck mengungkap tiga penyerang paling sulit yang pernah ia hadapi sepanjang kariernya di level tertinggi Eropa.

Erling Haaland: Ancaman yang Tak Pernah Bisa Diremehkan

Nama pertama yang disebut Bisseck adalah Erling Haaland, striker andalan Manchester City.

Menurut Bisseck, Haaland adalah tipe penyerang yang sangat efisien dan berbahaya meski tidak selalu banyak terlibat dalam permainan.

Ia menjelaskan bahwa pemain seperti Haaland hanya membutuhkan satu peluang untuk mengubah jalannya pertandingan, sehingga bagi bek, kesalahan kecil bisa sangat fatal.

“Saya pernah bermain melawan Erling Haaland, dan itu tidak mudah. Dia tidak terlalu banyak terlibat dalam permainan, bukan karena dia tidak bisa, tetapi karena memang tidak perlu,” ujarnya.

“Di Manchester City, Anda punya begitu banyak pemain kelas dunia di sekitar Anda sehingga dia bisa benar-benar fokus untuk muncul di area penalti pada momen tertentu. Dan hal yang bagus sebagai penyerang adalah Anda hanya perlu muncul satu kali, dan jika Anda mencetak gol, Anda sudah memainkan pertandingan yang bagus,”

“Sebaliknya, sebagai bek, Anda bisa mengendalikan lawan selama 89 menit, lalu dia lolos satu kali saja dan itu terlihat seperti Anda bermain buruk,”

“Begitulah Erling Haaland, pemain seperti dia adalah yang paling menyulitkan, karena mereka juga yang paling berbahaya,”Bagian Atas FormulirBagian Bawah Formulir

Harry Kane: Striker Lengkap dan Sulit Diprediksi

Di posisi kedua, Bisseck menyebut Harry Kane sebagai lawan yang sangat berbeda dari Haaland.

Kane, yang kini dikenal sebagai penyerang serba bisa, tidak hanya fokus di kotak penalti, tetapi juga sering turun ke lini tengah untuk membantu membangun serangan.

Hal inilah yang membuatnya sangat sulit diprediksi dan sulit dijaga.

Bisseck mengakui bahwa menghadapi pemain seperti Kane selalu menjadi tantangan besar sekaligus pengalaman berharga.

“Saya juga bermain melawan Harry Kane tahun lalu. Tentu saja, dia tahu cara mencetak gol, tetapi berbeda dengan Haaland, dia selalu terlibat dalam permainan,”

“Tiba-tiba dia bisa berada di lini tengah, lalu mengambil bola di lini pertahanan. Itu gaya permainan yang benar-benar berbeda. Dia adalah penyerang kelas atas yang sesungguhnya, Anda tidak pernah bisa benar-benar mempersiapkan diri sepenuhnya,”

“Namun saya selalu menantikan duel seperti ini.”

Lamine Yamal: Bakat Muda yang Sudah Berbahaya

Untuk posisi ketiga, Bisseck tidak memilih striker, melainkan bintang muda top dari Barcelona, yaitu Lamine Yamal.

Ia menyoroti kemampuan Yamal dalam menciptakan bahaya bahkan dalam situasi sulit, termasuk saat dijaga oleh beberapa pemain sekaligus.

Menurut Bisseck, keberanian dan kreativitas Yamal di usia muda menunjukkan potensi luar biasa yang membuatnya sangat dihormati oleh para bek lawan.

“Saya tidak akan menyebutnya seorang striker, melainkan seorang pemain ofensif. Di semifinal Liga Champions musim lalu kami bermain melawan Barcelona, dan Lamine Yamal memberi kami tantangan besar,”

“Sebagian besar pemain, ketika ada tiga lawan yang mendekat, biasanya akan memilih mengoper bola ke rekan berikutnya. Namun Lamine Yamal biasanya tetap menemukan cara untuk tetap berbahaya dalam situasi seperti itu. Itu adalah hal yang sangat saya hormati,”

Pendidikan dan Buku: Sisi Lain Yann Bisseck

Selain membahas sepak bola, Bisseck juga membuka sisi pribadinya yang menarik. Ia mengaku menyelesaikan pendidikan sekolah (SMA) lebih cepat dan lulus di usia 16 tahun.

Bagi Bisseck, pendidikan memiliki peran penting dalam hidupnya, dan ia tetap menyukai kegiatan membaca buku di tengah kesibukan sebagai pesepak bola profesional.

Ia bahkan sempat menjadi bahan candaan di ruang ganti karena hobinya membaca.

Meski begitu, Bisseck menegaskan bahwa membaca bukan sesuatu yang aneh, melainkan bagian dari cara dirinya terus belajar dan berkembang.

“Bagi saya, pendidikan bukanlah hal yang tidak penting, saya menyukainya. Saya juga suka membaca buku. Beberapa rekan setim kadang menertawakan itu. Begitu mereka mendengar kata ‘Buch’ (buku), mereka langsung berpikir: ‘Oh wow, dia membaca buku,’”

Dan buku apa yang sedang kamu baca sekarang?

“Sebenarnya saya sedang membaca buku dari seri ‘Homo Deus’.” Pungkasnya tertawa.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*