Kesuksesan Inter Milan meraih Scudetto musim ini tak lepas dari ketajaman duet lini depan mereka. Pengamat sepak bola Italia, Daniele Adani, secara khusus memberikan pujian besar kepada pasangan striker Lautaro Martínez dan Marcus Thuram.
Dalam program Viva el Futbol, Adani menyebut keduanya bukan hanya mesin gol, tetapi juga pemain yang membuat keseluruhan permainan Inter menjadi lebih hidup dan dominan.
Lautaro dan Thuram Jadi Simbol Kekuatan Inter
Menurut Adani, duet Lautaro-Thuram adalah representasi paling tepat dari keberhasilan Inter musim ini.
Meski keduanya tidak selalu bermain bersama sebanyak musim-musim sebelumnya, mereka tetap mampu menjadi dua pencetak gol terbanyak klub dan memberi dampak besar terhadap performa tim secara keseluruhan.
“Saya menyebut duet Lautaro-Thuram, mereka memang tidak bermain bersama sesering tahun-tahun sebelumnya, tetapi keduanya adalah pencetak gol terbanyak,” ujar Adani.
Statistik Inter pun mendukung pernyataan tersebut. Nerazzurri sudah mencetak 82 gol hanya dalam 35 pertandingan Serie A, angka yang belum pernah dicapai klub pada fase yang sama sepanjang sejarah mereka.
“Inter sudah mencetak 82 gol, dan dalam sejarahnya dalam 35 pertandingan mereka belum pernah mencapai jumlah tersebut, dalam sepak bola yang sekarang lebih berfokus pada mencetak gol daripada sekadar tidak kebobolan,”
Filosofi Menyerang Cristian Chivu Jadi Pembeda
Adani juga menyoroti filosofi permainan pelatih Cristian Chivu yang dianggap membawa identitas kuat bagi Inter Milan musim ini.
Menurutnya, Chivu selalu menanamkan mentalitas menyerang kepada tim:
“Chivu selalu berkata, ‘kita bermain untuk menang, boleh saja kalah, tetapi kita harus menyerang, kita harus mendominasi’,”
Filosofi tersebut terlihat jelas sepanjang musim. Bahkan saat kalah, Inter tetap bermain ofensif dan tidak mengubah identitas permainan mereka.
Inter Punya Lini Serang Terbaik di Serie A
Bagi Adani, kekuatan terbesar Inter bukan hanya pada jumlah gol, tetapi pada cara mereka membangun permainan.
Ia menilai Lautaro dan Thuram mampu meningkatkan kualitas penyerang lain:
- Francesco Pio Esposito
- Ange-Yoan Bonny
Kedua striker muda tersebut dinilai berkembang pesat karena pengaruh duet utama Inter.
Adani pun menyebut lini serang Inter sebagai yang terbaik di Serie A saat ini.
“Inter telah kalah dalam lima pertandingan, empat di antaranya terjadi pada sepertiga awal musim, tetapi mereka tidak pernah berhenti menyerang bahkan dalam pertandingan yang mereka kalah. Menurut saya, mereka membuat tim bermain dengan baik, mencetak gol, dan juga sangat penting dalam mengembangkan dua penyerang lainnya, Esposito dan Bonny. Jadi saya ingin memberi penghargaan kepada satu lini untuk mengapresiasi lini serang terkuat di Serie A kita,”
Inter Dinilai Tidak Perlu Revolusi Besar
Selain membahas duet striker, Adani juga berbicara mengenai masa depan Inter Milan.
Menurutnya, klub tidak perlu melakukan perubahan drastis karena fondasi tim saat ini sudah sangat kuat. Ia melihat ada 6–7 pemain inti yang memiliki chemistry luar biasa dan membantu seluruh skuad berkembang bersama.
Adani percaya Chivu berhasil memberikan “cap” atau identitas baru terhadap tim tanpa menghilangkan dasar permainan yang sudah kuat sebelumnya.
Inter Perlu Evolusi, Bukan Revolusi
Meski begitu, Adani tetap menilai Inter membutuhkan evolusi taktik agar semakin sulit ditebak di masa depan.
Saat ini, sistem 3-5-2 ofensif milik Inter dianggap sangat dominan di Italia dan bahkan sulit dihentikan lawan. Namun, ia mengingatkan bahwa tim besar tetap perlu memiliki variasi strategi agar tidak mudah terbaca.
“Inter harus punya sesuatu yang berbeda tanpa harus menghapus identitas permainan mereka.”

Leave a Reply