Marcus Thuram akhirnya memecah kesunyian. Setelah melewati periode sulit yang sempat meragukan ketajamannya, penyerang asal Prancis ini kembali menunjukkan taringnya saat membawa Inter Milan meraih kemenangan telak 5-2 atas Roma di San Siro pada pekan ke-31 Serie A 2025-26.
Dalam wawancara emosional dengan Sky Sport, Thuram berbicara jujur mengenai ekspektasi berat mengenakan jersey Nerazzurri, periode “kegelapan” yang ia alami, dan koneksi magisnya dengan Lautaro Martinez.
Kejujuran Sang Striker: Menghadapi Tekanan Nomor 9
Menjadi penyerang utama di klub sebesar Inter Milan bukanlah tugas mudah. Thuram sadar betul bahwa standar di Giuseppe Meazza sangatlah tinggi. Ia tidak mencari alasan atas penurunan performanya belakangan ini.
“Memang benar bahwa seorang penyerang harus mencetak gol. Pemilik nomor 9 Inter tidak boleh absen mencetak gol selama tiga bulan,” ujar Thuram dengan nada tegas.
Pernyataan ini menunjukkan mentalitas elit. Thuram mengakui bahwa ia sempat mengalami penurunan performa, namun ia terus berupaya memberikan kontribusi maksimal bagi tim meski bola belum bersarang di gawang lawan.
“Tetapi saya mencoba membantu tim sebisa mungkin. Saya mengalami penurunan performa, dan saya harap itu tidak terjadi lagi,”
Mengapa Kemenangan atas Roma Sangat Penting?
Meski Inter telah meraih banyak kemenangan musim ini, poin penuh melawan Roma memiliki nilai moral yang berbeda. Bagi Thuram, menang di hadapan pendukung sendiri adalah bahan bakar utama untuk menjaga momentum perburuan gelar.
- Mental Juara: Membuktikan konsistensi di laga besar.
- Atmosfer San Siro: Mengembalikan kepercayaan diri tim di depan publik sendiri.
- Kerja Keras: Thuram menegaskan bahwa tim harus terus bekerja untuk tetap berada di jalur yang benar.
“Untuk mentalitas, selalu menyenangkan bisa menang seperti ini di depan para pendukung; kami harus terus bekerja keras untuk tetap menjaga performa tim ini,”
Peran Tim Nasional: “Reset” Mental di Saat yang Tepat
Salah satu poin menarik dalam wawancara tersebut adalah bagaimana Thuram memanfaatkan jeda internasional. Setelah hasil yang kurang memuaskan di Florence (melawan Fiorentina), kembali ke pemusatan latihan Timnas Prancis menjadi titik balik baginya.
Menurutnya, berganti suasana dan mencetak gol untuk negara adalah cara terbaik untuk mengisi ulang energi. Ia kembali ke Appiano Gentile dengan semangat baru, siap membuktikan bahwa masa sulitnya telah berakhir.
“Gol di tim nasional? Pergi ke sana setelah laga di Florence adalah hal terbaik yang bisa terjadi untuk mengganti suasana dan kembali dengan semangat yang lebih membara dari sebelumnya,”
“El Toro dan Tikus”: Hubungan Telepati dengan Lautaro Martinez
Meskipun Inter memiliki rotasi penyerang yang berkualitas, chemistry antara Marcus Thuram dan Lautaro Martinez tetap menjadi fondasi utama lini serang.
Thuram memberikan pujian kepada rekan setim lainnya, namun ia tidak bisa menyembunyikan kenyamanan saat bermain bersama sang kapten.
“Duet dengan Lautaro? Meskipun Pio dan Bonny luar biasa, saya memiliki hubungan yang sudah dibangun selama tiga tahun dengan Lautaro: bermain bersamanya rasanya seperti berada di rumah sendiri. Saya merasa sangat nyaman dengannya.”
Koneksi ini bukan sekadar taktik, melainkan ikatan emosional yang membuat lini serang Inter menjadi salah satu yang paling ditakuti di Eropa.

Leave a Reply