Mantan bek Inter Milan, Andrea Ranocchia memberikan analisis mendalam terkait jalannya Derby della Madonnina antara Inter Milan dan AC Milan pada pekan ke-28 Serie A 2025-26, Senin (9/3/2026) dini hari WIB.
Berbicara dalam program olahraga Pressing, mantan kapten Inter tersebut menyoroti beberapa faktor yang menurutnya sangat memengaruhi jalannya pertandingan, mulai dari absennya duet penyerang utama hingga masalah di sisi kanan permainan Nerazzurri.
Menurut Ranocchia, laga derby tersebut berjalan dalam tiga fase berbeda, dengan momentum yang terus berubah sepanjang pertandingan.
Derby dengan Tiga Fase Permainan
Ranocchia menjelaskan bahwa pertandingan dimulai dengan pendekatan agresif dari Milan.
Namun momentum sempat berubah ketika Inter mendapatkan peluang emas yang gagal dimanfaatkan.
“Ini adalah Derby dengan tiga fase. Milan memulai pertandingan dengan sangat agresif. Kemudian Mkhitaryan memiliki peluang emas yang gagal dimanfaatkan, dan Inter langsung kebobolan setelah itu sehingga pertandingan berubah,” ujar Ranocchia.
Gelandang Inter, Henrikh Mkhitaryan, memang sempat mendapatkan kesempatan emas yang bisa saja mengubah jalannya pertandingan jika berhasil dikonversi menjadi gol.
Namun setelah peluang itu terbuang, Milan justru berhasil memanfaatkan kualitas mereka untuk mengambil keuntungan.
Absennya Duet “ThuLa” Sangat Terasa
Salah satu poin utama yang disorot Ranocchia adalah absennya duet maut Inter yang dikenal dengan julukan “ThuLa”:
- Marcus Thuram
- Lautaro Martinez
Menurutnya, Inter kehilangan banyak dinamika serangan tanpa kehadiran keduanya di level terbaik.
“Thuram dan Lautaro sangat dirindukan. Thuram selalu menyerang ruang dengan lari ke depan, sementara Lautaro sering dikritik karena tidak mencetak gol di laga besar, tetapi sebenarnya dia selalu menciptakan peluang dan sangat merepotkan lawan,”
Komentar tersebut sekaligus menjadi pembelaan terhadap Lautaro yang belakangan sering mendapat kritik terkait produktivitas golnya dalam pertandingan besar.
Inter Kesulitan Melawan Pertahanan Rendah
Ranocchia juga menilai Inter mengalami kesulitan ketika menghadapi tim yang bermain sangat defensif.
Menurutnya, strategi bertahan dalam blok rendah membuat ruang di lini serang menjadi sangat terbatas.
“Ketika menghadapi tim yang bertahan sangat dalam, ruang menjadi sangat sedikit,”
Situasi ini membuat permainan Inter menjadi lebih mudah diprediksi dan kurang efektif dalam membongkar pertahanan lawan.
Dumfries Dinilai Harus Kembali ke Performa Terbaik
Selain absennya duet penyerang, Ranocchia juga menyoroti pentingnya peran wing-back kanan Inter, Denzel Dumfries.
“Inter juga perlu menemukan kembali Dumfries karena dia sangat penting. Inter memiliki banyak jalur serangan di sisi kiri lewat Dimarco dan Bastoni, sementara di sisi kanan agak kurang efektif karena Luis Henrique masih kesulitan,”
Ia menambahkan bahwa bahkan Milan pun mempersiapkan pertandingan secara berbeda ketika Dumfries bermain.
“Bahkan Milan yang mempersiapkan pertandingan pun tahu bahwa menghadapi Dumfries adalah hal yang berbeda,”
Kritik pada Kebobolan yang Seharusnya Bisa Dicegah
Ranocchia juga memberikan pandangan dari sudut pandang seorang bek terkait gol yang terjadi.
Menurutnya, bola yang masuk ke kotak penalti dalam situasi tersebut seharusnya bisa diantisipasi dengan lebih baik.
“Sebagai seorang bek, bola seperti itu tidak boleh masuk ke kotak penalti. Di Italia, sejak kecil Anda diajarkan bahwa bola harus dibuang keluar. Luis Henrique seharusnya bergerak lebih cepat.”
Pernyataan ini menyoroti pentingnya disiplin defensif dan reaksi cepat dalam situasi krusial.
Kontroversi Handball Ricci
Di akhir analisanya, Ranocchia juga menyinggung momen kontroversial terkait dugaan handball oleh pemain Milan, Samuele Ricci di dalam kotak penalti.
Ia merasa keputusan wasit untuk tidak meninjau ulang insiden tersebut melalui VAR cukup mengejutkan.
“Bagaimana mereka bisa menjelaskan bahwa wasit bahkan tidak dipanggil untuk meninjau ulang kejadian itu?”

Leave a Reply