Legenda Inter, Materazzi: “Saya Hanya Pernah Mencium Tiga Jersey dalam Karier”

Legenda Inter Milan, Marco Materazzi, mengungkap kisah emosional tentang loyalitasnya selama berkarier sebagai pesepak bola profesional.

Mantan bek tangguh Italia itu mengaku hanya pernah mencium tiga jersey sepanjang kariernya, yakni Inter, Perugia, dan timnas Italia.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam wawancara dengan Vivo Azzurro TV, seperti dikutip oleh FCInterNews. Materazzi menegaskan bahwa tiga tim tersebut memiliki arti paling penting dalam perjalanan hidup dan kariernya.

Ikon Treble Inter Milan 2010

Nama Materazzi tidak bisa dipisahkan dari sejarah emas Inter Milan, khususnya ketika klub meraih 2010 UEFA Champions League Final dan menutup musim dengan treble bersejarah di bawah pelatih legendaris Jose Mourinho.

Materazzi membela Inter dari tahun 2001 hingga 2011, periode yang menjadi masa paling gemilang dalam kariernya.

Selama satu dekade di San Siro, Materazzi meraih total 14 trofi, termasuk lima gelar Serie A berturut-turut antara 2006 hingga 2010.

Dengan kepemimpinan, karakter kuat, dan mentalitas juara, Materazzi menjadi salah satu figur paling ikonik dalam sejarah Nerazzurri.

Tiga Jersey Paling Berarti

Bagi Materazzi, loyalitas dalam sepak bola bukan sekadar kata-kata. Ia menegaskan bahwa hanya ada tiga jersey yang benar-benar memiliki makna emosional bagi dirinya.

“Saya hanya mencium tiga jersey, yaitu milik tim-tim yang paling saya cintai,” tegas Marco Materazzi.

“Bersama tim nasional, kita semua tahu apa yang telah kami capai; bersama Inter, saya mengalami momen-momen baik maupun buruk,”

“Kami kehilangan Scudetto pada hari terakhir, tetapi kami berhasil menutup lingkaran dengan memenangkan Treble bersama rekan-rekan setim yang sama dari kekecewaan tahun 2002 itu. Jika Anda terus berjuang, pada akhirnya Anda akan mendapatkan apa yang Anda inginkan,”

“Perugia memungkinkan saya mencapai tim nasional. Ketika saya dipanggil untuk pertama kalinya, saya merasa tidak cukup pantas; saya bahkan menelepon istri saya untuk menjemput saya karena saya merasa bukan diri saya sendiri,”

“Namun kemudian saya memainkan pertandingan yang hebat, dan dari situlah semuanya dimulai.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*