Kegagalan di Liga Champions sudah dikubur dalam-dalam. Kini, fokus penuh Inter Milan hanya satu, yakni Serie A.
Menjelang laga penting melawan Genoa pada pekan ke-27 Serie A 2025-26 di San Siro, pelatih Cristian Chivu menegaskan sebuah pesan tegas kepada skuadnya di Appiano Gentile: perburuan Scudetto belum selesai.
Tersingkir dari Liga Champions meninggalkan bekas psikologis yang tidak ringan. Kekalahan dari Bodo/Glimt menjadi pukulan telak yang mengguncang mental dan emosi tim. Namun justru di momen itulah karakter sejati diuji.
Ironisnya, di saat Inter tersungkur di panggung Eropa, jarak dengan rival sekota AC Milan justru melebar di klasemen Serie A. Nerazzurri melesat hingga +10 poin, bahkan berpotensi menjauh hingga +13 jika mampu menaklukkan Genoa.
Musim ini memang berjalan dalam dua jalur berbeda bagi Inter:
- Di Italia: dominan, konsisten, dan nyaris tanpa ampun terhadap tim papan tengah dan bawah.
- Di Eropa: mengalami kemunduran dibanding musim gemilang sebelumnya, sekaligus kehilangan potensi pemasukan sekitar 20 juta euro dari target awal.
Dalam konteks inilah, target meraih Scudetto ke-21 menjadi bahan bakar utama. Ambisi itu bukan sekadar soal trofi, tetapi juga gengsi: memastikan Inter mencapai bintang kedua sebelum Milan meraih gelar ke-20.
Pesan Tegas Chivu di Appiano
Dalam sesi terakhir sebelum laga kandang, tanpa tradisi pemusatan latihan yang kini sudah lama dihapus di Appiano—Chivu menekankan satu konsep penting:
“Belum selesai.”
Klasemen memang terlihat nyaman. Namun menurut sang pelatih asal Rumania, jalan menuju gelar masih penuh jebakan. Satu kesalahan kecil bisa membuka pintu bagi pesaing untuk kembali mendekat.
Ada satu skenario yang ingin dihindari Chivu:
- Inter kehilangan fokus melawan Genoa.
- Milan menang di laga berikutnya.
- Jarak poin terpangkas drastis sebelum derby.
Jika itu terjadi, tekanan psikologis akan kembali membesar. Situasi bisa berubah dalam hitungan pekan.
Bahaya Emosi yang Berlawanan
Inter kini berada di antara dua kutub emosi:
- Kekecewaan mendalam karena kehilangan trofi bergengsi.
- Euforia tersembunyi karena dominasi di liga domestik.
Menjaga keseimbangan di antara dua perasaan ekstrem itu bukan perkara mudah. Terlalu larut dalam kesedihan bisa mematikan motivasi. Terlalu nyaman dengan keunggulan klasemen bisa menurunkan intensitas.
Chivu tidak menginginkan keduanya.
Ia ingin Inter tetap menjadi Inter yang kita kenal musim ini:
- Efisien.
- Tajam.
- Tanpa kompromi saat menghadapi tim “satu atau satu setengah tingkat di bawah”.
Faktanya, sejak September, Nerazzurri mencatatkan 100% kemenangan atas tim papan tengah dan bawah. Konsistensi inilah yang menjadi fondasi menuju Scudetto.
Genoa dan Bayang-Bayang Derby
Laga kontra Genoa menjadi krusial bukan hanya karena tiga poin, tetapi juga karena datang tepat sebelum Derby melawan Milan.
Inter belum lagi merayakan kemenangan atas rival sekota itu sejak April 2024, malam ketika mereka terbang menuju bintang kedua. Momentum psikologis menjelang duel besar sangat bergantung pada hasil kontra Genoa.
Chivu sadar, kesalahan kecil di laga ini bisa:
- Menghidupkan kembali perburuan gelar.
- Memberi angin bagi pesaing.
- Mengubah atmosfer internal tim.

Leave a Reply