Chivu Akui Inter Kurang Kompetitif di Eropa: “Bodo/Glimt Punya Energi Lebih”

Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, tak mencari kambing hitam usai tersingkir dari Liga Champions. Ia dengan jujur mengakui bahwa timnya “tidak cukup kompetitif” di Eropa musim ini dan menyebut Bodo/Glimt memiliki energi yang jauh lebih besar dalam duel penentuan di San Siro.

Kekalahan 2-1 di kandang sendiri di leg kedua play-off memastikan Inter gagal membalikkan defisit 3-1 dari leg pertama di Norwegia.

Meski mendominasi penguasaan bola dan menciptakan sejumlah peluang, Nerazzurri tetap tak mampu membendung efektivitas lawan.

Gol Cepat dan Energi Bodo/Glimt Jadi Pembeda

Inter sejatinya memulai laga dengan intensitas tinggi. Namun, kesalahan fatal dari Manuel Akanji yang berujung gol pembuka Jens-Petter Hauge menjadi titik balik pertandingan.

Tak lama berselang, Hakon Evjen menggandakan keunggulan tim tamu. Gol hiburan dari Alessandro Bastoni lewat situasi sepak pojok datang terlambat untuk mengubah nasib Inter.

Absennya Lautaro Martinez dan Hakan Calhanoglu sangat terasa, terutama dalam efektivitas penyelesaian akhir.

“Sulit untuk menemukan energi ketika Anda bermain setiap tiga hari. Saya tidak bisa meminta lebih dari para pemain saya, karena mereka sudah mencoba segalanya malam ini. Jika kami berhasil memecah kebuntuan, mungkin itu bisa memicu semangat yang lebih besar, tetapi sangat sulit ketika mereka bertahan dengan 10 pemain,” ujar Chivu kepada Sky Sport Italia.

“Ada banyak kekecewaan, karena sayangnya kami menghadapi tim yang memiliki energi jauh lebih besar daripada kami. Mereka sangat terorganisir, tahu apa yang harus dilakukan setelah hasil 3-1 di leg pertama, dan mengeksekusinya dengan sangat brilian,”

Faktor Fisik dan Psikologis

Bodo/Glimt memang berada dalam situasi unik. Liga domestik mereka sedang jeda, sehingga sejak pertengahan September, mereka hanya bermain di Liga Champions. Hasilnya? Fokus total dan kondisi fisik lebih segar.

“Kami setidaknya ingin tampil kompetitif di Eropa, tetapi kami menghadapi tim yang hanya memainkan empat pertandingan dalam tiga bulan terakhir, dan semuanya di Liga Champions,”

Inter Gagal Ulangi Konsistensi Era Inzaghi

Dalam beberapa musim terakhir di bawah Simone Inzaghi, Inter dua kali mencapai final Liga Champions.

Namun kali ini, mereka tersingkir lebih awal, sesuatu yang terakhir terjadi pada musim 2020/21 di era Antonio Conte.

“Kami mencoba segalanya. Tapi ketika peluang tidak dikonversi dan keputusan akhir tidak tepat, Anda akan dihukum pada kesalahan pertama,” tegasnya.

Fokus Kini ke Serie A dan Coppa Italia

Meski tersingkir dari Eropa, Inter masih kokoh di puncak klasemen Serie A dengan keunggulan 10 poin. Mereka juga akan menghadapi Como di semifinal Coppa Italia.

Chivu menegaskan bahwa timnya harus segera bangkit.

“Kita harus melupakan kekalahan ini. Kami membalik halaman dan terus maju. Ini Liga Champions, kami harus memberi kredit kepada lawan. Ada kekecewaan besar, tapi musim belum selesai.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*