Isu tentang apa yang disebut sebagai “Marotta League” kembali mencuat di media sosial.
Namun jurnalis senior Italia, Ivan Zazzaroni, dengan tegas membantah teori konspirasi tersebut dan membela Presiden Inter Milan, Beppe Marotta.
Berbicara dalam podcast Numer1 via FCInter1908, Zazzaroni menyebut tudingan bahwa Marotta memonopoli atau “mengendalikan” Serie A sebagai narasi yang tidak berdasar.
Asal-Usul Istilah “Marotta League”
Istilah “Marotta League” muncul di media sosial sebagai sindiran terhadap pengaruh besar Marotta di sepak bola Italia. Sosok yang pernah membangun ulang kejayaan Juventus pasca-Calciopoli itu memang dikenal sebagai direktur olahraga yang sangat berpengaruh.
Antara 2010 hingga 2018, ia menjadi arsitek di balik tujuh gelar Serie A beruntun Juventus. Pada 2018, Marotta memutuskan bergabung dengan rival abadi, Inter Milan, dan kembali membuktikan kapasitasnya.
Bersama Inter, ia membangun skuad kompetitif dengan pendekatan finansial yang efisien. Dalam enam musim terakhir, Nerazzurri meraih dua gelar Serie A dan kini berada di jalur menuju Scudetto ke-21 di bawah asuhan Cristian Chivu.
Zazzaroni: Kalau Marotta League Ada, Di Mana Kekuatannya?
Zazzaroni secara terbuka mengkritik narasi konspiratif tersebut:
“Kalau memang ada yang namanya Marotta League, berarti direktur klub lainlah yang membiarkan direktur berpengalaman 40 tahun melakukan apa saja. Marotta hanya melakukan pekerjaannya, menjaga relasi. Dia tidak memengaruhi wasit,” ujar Zazzaroni.
“Dia bekerja dengan baik untuk melayani kepentingannya. Sama seperti yang lain, mereka juga membangun relasi mereka sendiri,”
Ia menambahkan bahwa teori semacam ini justru mencerminkan kecenderungan di Italia untuk selalu mencari figur “penguasa tunggal” di balik setiap kesuksesan.
“Saya muak dengan isu Marotta League ini. Masalahnya, Anda tidak seharusnya menanamkan insinuasi seperti ini kepada orang-orang, memupuk ketakutan yang memang selalu ada di Italia, bahwa selalu ada satu orang kuat yang mengendalikan segalanya,”
Argumen Zazzaroni cukup tajam. Jika Marotta benar-benar “mengendalikan” liga, bagaimana mungkin Inter kehilangan dua gelar Serie A dalam tiga tahun terakhir?
“‘Marotta tidak seharusnya sekuat ini,’ kata mereka, padahal dia juga kehilangan dua Scudetto dalam tiga tahun terakhir serta dua final,”
Fakta tersebut menjadi bantahan konkret terhadap klaim bahwa Inter mendapat perlakuan istimewa.

Leave a Reply