Jelang pertandingan krusial antara Inter Milan vs Juventus pada pekan ke-25 Serie A 2025-26 dalam duel bertajuk Derby d’Italia, legenda Nerazzurri, Beppe Bergomi memberikan analisis tajam tentang siapa yang lebih unggul, faktor penentu kemenangan, hingga peluang Lautaro Martinez mencetak sejarah baru di klub.
Pertandingan ini bukan sekadar duel klasik Serie A, ini soal kontrol permainan, mentalitas, dan keberanian mengambil risiko.
Inter Unggul Tren, Tapi Statistik Tak Selalu Bicara Banyak
Dalam beberapa musim terakhir, Inter dinilai tampil lebih superior dibanding Juventus. Namun fakta menariknya, dari tujuh pertemuan terakhir di Serie A, Inter hanya mampu meraih satu kemenangan.
Menurut Bergomi, laga kali ini akan berbeda dan jauh lebih keras.
Ia menekankan satu kunci utama: kontrol permainan. Tim yang mampu menguasai ritme dan tempo akan keluar sebagai pemenang. Jika Inter kehilangan kendali, mereka bisa dalam bahaya besar.
“Tidak diragukan lagi, pertandingan ini berbeda, lebih berat dibanding yang lain. Kali ini pun akan sulit: saya memperkirakan intensitas tinggi. Menurut saya, yang menang adalah tim yang mampu lebih menguasai permainan,” ujar Bergomi.
Chivu Jadi Faktor Penentu
Cristian Chivu disebut sebagai sosok krusial dalam duel ini. Keberaniannya memainkan sepak bola agresif dan mengambil risiko terukur menjadi ciri khas baru Inter Milan.
Bergomi menilai kekuatan Chivu bukan hanya pada taktik, tetapi juga komunikasi ide kepada pemain. Ia mampu menanamkan kepercayaan diri dan identitas permainan yang jelas.
Namun ada catatan penting: Juventus memiliki pemain sayap eksplosif seperti Kenan Yildiz dan Francisco Conceição. Tipe pemain satu lawan satu seperti ini bisa memaksa wing-back Inter turun lebih dalam dan mengganggu keseimbangan sistem.
Inter memang tidak dibangun dengan filosofi winger murni. Sistem dua striker menjadi fondasi utama, sehingga pemain dribel cepat biasanya lebih cocok sebagai opsi perubahan di babak kedua.
“Pertama-tama, yang menentukan adalah cara Chivu mengomunikasikan ide-idenya. Lalu, yang tak kalah penting adalah fakta bahwa dia selalu memilih untuk mengambil risiko: saat melawan Cremonese dan Sassuolo, Inter bisa saja langsung kebobolan, tetapi itu adalah risiko yang hampir ‘terhitung’. Keberanian ini memungkinkannya memainkan tipe permainan yang berbeda, lebih agresif, dan pada akhirnya menuai hasilnya,”
“Jika Chivu menyerahkan kendali kepada Spalletti, risikonya besar karena Juventus memiliki pemain yang merepotkan bagi pertahanan Nerazzurri, terutama para pemain sayap seperti Yildiz dan Conceição yang bisa memaksa wing-back turun lebih dalam dan dengan begitu menciptakan bahaya,”
“Sistem Inter memang tidak dirancang untuk pemain sayap seperti itu. Yildiz dan Conceição cocok ketika Anda perlu melewati lawan dalam situasi satu lawan satu dan membuka pertahanan. Bagi Nerazzurri, pemain dengan kemampuan duel individu bisa menjadi solusi hanya saat pertandingan berlangsung, karena skuad dibangun dengan cara berbeda dan harus memiliki dua penyerang utama sejak awal,”
Dimarco Kandidat MVP, Tapi Ada Risiko
Federico Dimarco tampil luar biasa musim ini. Konsistensinya meningkat dibanding musim lalu, dan kini ia mampu tampil penuh selama 90 menit dengan intensitas tinggi.
Statusnya di tim juga meningkat, berkat kepercayaan penuh dari pelatih. Namun di laga besar seperti ini, posisi wing-back sangat rentan jika Juventus mampu mengeksploitasi ruang di belakangnya.
Dimarco bisa menjadi pembeda, atau justru titik yang diserang lawan.
“Sejauh ini dia melakukan hal-hal yang luar biasa. Sebenarnya musim lalu juga begitu, tetapi dengan konsistensi yang lebih rendah dan mungkin dengan kebebasan bermain yang tidak sebesar sekarang. Bisa dibilang saat ini dia memiliki kepercayaan diri yang berbeda dan mampu bermain penuh selama 90 menit. Itu adalah hasil kerja pelatih yang memberinya status yang jelas berbeda,”
Lautaro Menuju Status Legenda
Lautaro Martinez kini sejajar dengan Roberto Boninsegna dalam daftar pencetak gol sepanjang masa Inter. Target berikutnya adalah Altobelli.
Menurut Bergomi, mengejar Altobelli masih sangat realistis karena selisih golnya tidak terlalu jauh. Untuk menyamai Giuseppe Meazza memang lebih sulit, mengingat faktor usia dan penurunan eksplosivitas striker seiring waktu.
Namun satu hal pasti: Lautaro sudah berada di barisan depan sejarah besar Inter. Ia bukan sekadar kapten, tetapi simbol era baru Nerazzurri.
“Spillo (Altobelli) lebih realistis untuk dikejar Lautaro, ia hanya kurang 38 gol lagi. Menyamainya akan menjadi pencapaian legendaris lainnya. Untuk menyamai Meazza, ia harus bertahan hingga usia 34 tahun, dan kita tahu bahwa daya ledak seorang penyerang akan menurun pada usia tertentu. Tetapi mengapa tidak tetap berpikir bahwa itu mungkin? Bagaimanapun hasilnya nanti, pemain Argentina itu sudah berada di barisan terdepan dalam sejarah Inter,”
ThuLa Masih Jadi Duet Utama
Soal tandem terbaik Lautaro, Bergomi masih menempatkan Marcus Thuram sebagai pasangan ideal dalam duet “ThuLa”. Jika Thuram tampil dalam performa terbaiknya, kombinasi ini sulit digantikan.
Pio Esposito disebut sebagai opsi rotasi yang menjanjikan, tetapi untuk laga sebesar ini, pengalaman dan chemistry tetap menjadi faktor utama.
“Untuk saat ini, jika Thuram tampil seperti biasanya, saya rasa duet ThuLa tidak bisa dikesampingkan, dengan Pio sebagai opsi pengganti pertama. Namun pertandingan masih banyak, semua pasangan penyerang akan mendapatkan kesempatan bermain.”

Leave a Reply