Inter vs Juventus: Lini Serang Jadi Pembeda, Era Chivu Lebih Mematikan

Akhir pekan ini di San Siro, sepak bola Italia kembali menyajikan salah satu laga paling ikonik, yakni Derby d’Italia antara Inter Milan vs Juventus di pekan ke-25 Serie A 2025-26.

Lebih dari sekadar gengsi, duel ini menjadi partai penentu dalam perburuan Scudetto, khususnya bagi Inter yang kini berada di puncak klasemen.

Namun, seperti disorot Corriere dello Sport, ada satu faktor krusial yang membuat jarak kedua tim semakin menganga, yakni kualitas dan kedalaman lini serang Inter Milan.

Serangan Inter: Paket Lengkap yang Tak Dimiliki Juventus

Untuk membangun sosok penyerang “sempurna” ala desain komputer, meminjam istilah Luciano Spalletti, dibutuhkan kombinasi kualitas yang kini tersebar di skuad Inter Milan.

Juventus mungkin punya Kenan Yildiz dengan kemampuan satu lawan satu yang simetris, bisa menusuk ke kiri atau kanan sama baiknya.

Namun Inter punya Lautaro Martinez dengan insting membunuh di depan gawang, Marcus Thuram dengan progresi mematikan di ruang terbuka, serta fisik dan duel keras yang selama ini menjadi ciri Dusan Vlahovic, sesuatu yang justru belakangan hilang dari permainan Juventus.

Corriere dello Sport juga menggarisbawahi satu perbandingan menarik. Andai Juventus bisa mengandalkan Bonny dan Pio Esposito—bukan Openda dan Jonathan David—kemungkinan besar jarak poin dengan Inter tak akan melebar sejauh ini.

Faktanya, selisih 12 poin antara Januari dan Februari mencerminkan realitas pahit bagi Juve. Dengan Vlahovic sering menepi, Bonny dan Pio Esposito nyaris pasti akan menjadi starter di Turin. Namun kenyataannya, dua penyerang muda itu justru menjadi aset emas Inter di Appiano Gentile, menopang proyek baru yang dipimpin Cristian Chivu.

Dari Inzaghi ke Chivu: Evolusi Lini Depan Inter

Di era Simone Inzaghi, Inter kerap dipaksa “bertahan hidup” dengan opsi seperti Arnautovic, Taremi, dan Correa. Bukan berarti tanpa kualitas, tetapi jelas tidak sebanding dengan apa yang dimiliki Inter saat ini.

Di tangan Chivu, Inter Milan bukan hanya mempertahankan fondasi lama, tetapi menambahkan dimensi baru: lini serang yang eksplosif, produktif, dan yang paling penting memberikan rotasi tanpa penurunan level.

Inilah yang disebut Corriere dello Sport sebagai “attacco atomico”—serangan atomik yang bisa menghancurkan lawan dari berbagai skema, tempo, dan situasi pertandingan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*