Setelah gagal total mendatangkan Joao Cancelo, dengan sang pemain disebut-sebut lebih dekat kembali ke Barcelona, manajemen Inter Milan kini dipaksa berpikir realistis.
Keterbatasan anggaran, waktu yang sempit, serta sedikitnya opsi yang benar-benar bisa dieksekusi membuat Inter Milan harus jeli mencari solusi.
Di tengah situasi tersebut, satu nama mulai mencuat sebagai jawaban paling rasional sekaligus strategis, yakni Mattia Zanotti.
Pemulangan pemain muda binaan sendiri ini bukan hanya soal nostalgia, melainkan keputusan yang selaras dengan kebutuhan teknis dan visi jangka panjang klub.
Profil Ideal untuk Kebutuhan Mendesak Inter
Sebagaimana dilansir FCInter1908.it, Mattia Zanotti adalah paket lengkap yang sulit diabaikan. Lahir pada 2003 (22 tahun), bek kanan kelahiran Brescia itu memang masih muda, namun sudah ditempa pengalaman berharga.
Ia tumbuh di akademi Inter Milan dan pernah dilatih langsung oleh Cristian Chivu saat masih memperkuat Primavera Nerazzurra, faktor penting yang membuat adaptasinya nyaris tanpa risiko.
Selepas meninggalkan Italia, Zanotti berkembang pesat di Swiss bersama St. Gallen dan kini FC Lugano, di mana ia tampil reguler sebagai starter.
Artinya, ia bukan proyek mentah, melainkan pemain siap pakai yang bisa langsung menjadi alternatif kredibel di sisi kanan sembari menunggu kondisi Dumfries benar-benar ideal.
Biaya Terjangkau, Sesuai Filosofi Oaktree
Di era kepemilikan Oaktree, Inter Milan dituntut cerdas dalam berbelanja: investasi rendah, potensi tinggi. Zanotti memenuhi semua kriteria itu.
Inter Milan diketahui masih memiliki persentase dari penjualan kembali sang pemain, setelah Lugano membelinya pada musim panas 2024 dengan kontrak hingga 30 Juni 2028.
Kondisi ini membuat biaya pemulangan Zanotti jauh lebih terjangkau dibanding mendatangkan bek kanan asing dengan gaji besar.
Bagi Inter, ini adalah peluang untuk memperkuat skuad tanpa mengorbankan keseimbangan finansial.
Konsistensi dan Lonjakan Performa di Swiss
Perkembangan Zanotti di Swiss bukan sekadar biasa. Ia Dua kali masuk Best XI Liga Swiss pada dua musim pertamanya, dan musim ini semakin matang. Dari 13 penampilan di Super League, ia telah mencatatkan 3 assist, sekaligus menjadi salah satu bek sayap dengan rating performa tertinggi.
Tak heran jika nilai pasarnya melonjak dan ia disebut-sebut sebagai bek kanan termahal di liga.
Banyak pihak meyakini, cepat atau lambat, Zanotti akan hijrah ke liga yang lebih kompetitif. Pertanyaannya tinggal satu: apakah Inter akan menjadi tujuan berikutnya?
Jejak Dimarco, Inspirasi yang Nyata
Ada satu kisah yang membuat opsi ini terasa semakin “Inter”: Federico Dimarco.
Sama seperti Zanotti, Dimarco sempat “dibesarkan” di Swiss sebelum kembali ke Milan dan menjelma menjadi pilar utama Nerazzurri. Jalur karier itu kini terbentang jelas di depan Zanotti.
Menariknya lagi, Zanotti baru saja bergabung dengan agen Federico Pastorello, sosok yang dikenal memiliki hubungan kerja sangat baik dengan Inter. Detail kecil ini bisa menjadi kunci penting jika negosiasi benar-benar dibuka.
Pulang ke Rumah, Solusi Paling Logis
Jika Inter benar-benar tak ingin berjudi di pasar Januari, memulangkan Mattia Zanotti adalah langkah paling masuk akal.
Ia muda, sudah mengenal lingkungan klub, cocok dengan filosofi Chivu, berkembang pesat di Liga Swiss, dan tidak membebani keuangan.
Bukan sekadar rencana darurat pasca-gagalnya kedatangan Cancelo, Zanotti justru bisa menjadi investasi cerdas yang memberikan dampak langsung sekaligus manfaat jangka panjang.
Kadang, solusi terbaik bukan datang dari luar, melainkan dari rumah sendiri.

Leave a Reply