Francesco Pio Esposito berhasil mengubah narasi kariernya secara drastis: dari pemain muda yang bertarung di kompetisi kasta kedua Italia, kini menjadi bagian penting dalam rotasi taktik Cristian Chivu di Inter Milan.
Kerennya, pencapaian tersebut hanya dicapai dalam kurun waktu Satu tahun.
Momen puncaknya terjadi pada 16 November lalu, ketika ia mencetak gol perdananya di San Siro, bukan dengan seragam klub, melainkan dengan kostum kebanggaan Timnas Italia.
Memanfaatkan assist dari rekan setimnya di Inter, Federico Dimarco, Pio Esposito menunjukkan bahwa ia sudah siap bersaing di level tertinggi.
Pilihan Berani Inter: Mempertahankan Sang Permata
Pada bursa transfer musim panas lalu, rumor mengenai peminjaman Pio Esposito ke klub lain berhembus kencang.
Banyak yang mengira ia akan kembali “disekolahkan” demi menit bermain. Namun, manajemen Inter Milan mengambil keputusan besar yang krusial bagi masa depan klub: mempertahankannya.
Inter Milan memilih untuk bertaruh pada bakat aslinya. Keputusan ini terbukti tepat karena Esposito menunjukkan pertumbuhan fisik yang signifikan serta pemahaman taktik yang jauh lebih matang untuk menghubungkan permainan (link-up play).
Evolusi Gaya Main: Dari Spezia ke Taktik Chivu
Pengalaman Pio Esposito di Spezia musim lalu adalah “sekolah” yang keras namun efektif. Di sana, ia terbiasa dengan permainan bola panjang dan duel fisik (sportellate). Namun, di bawah asuhan Cristian Chivu, Esposito dituntut untuk lebih teknis.
Apa yang Berubah dari Pio Esposito?
- Ketajaman di Luar Kotak Penalti: Jika dulu ia hanya menunggu bola, kini ia lebih aktif menjemput bola dan terlibat dalam membangun serangan.
- Verticality: Sesuai dengan filosofi permainan yang diwariskan Simone Inzaghi ke tim Chivu, Esposito kini lebih tajam dalam melakukan serangan vertikal yang langsung menusuk jantung pertahanan lawan.
- Akurasi Tembakan: Kemampuan tembakan jarak jauhnya telah meningkat pesat, menjadikannya ancaman dari berbagai sudut.
“Berguru” pada Duo ThuLa: Lautaro dan Thuram
Salah satu kunci pesatnya perkembangan Esposito adalah lingkungan pelatihannya. Menjadi bagian dari skuad utama berarti ia berlatih setiap hari bersama duet striker terbaik Italia saat ini: Lautaro Martinez dan Marcus Thuram.
Duo “ThuLa” ini bukan sekadar rekan setim, melainkan mentor bagi Esposito. Mereka memberikan tips-tips presisi mengenai penempatan posisi dan pengambilan keputusan di depan gawang.
Bagi Esposito, memiliki guru seperti Lautaro dan Thuram adalah kemewahan yang tidak dimiliki pemain muda lain di usianya.
Pengakuan dari Rival dan Rekan
Kualitas Pio Esposito bukanlah klaim sepihak. Bek Udinese, Nicolò Bertola, yang pernah bermain bersamanya di Spezia, memberikan testimoni jujur:
“Pio Esposito? Saya sudah menduga dia akan mencapai level ini. Dia pemain yang sangat kuat, pantas melakukan lompatan ini, dan dia akan melakukan hal-hal yang lebih besar lagi.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa karakter dan talenta Pio Esposito memang sudah terlihat sejak ia masih bermain di kasta bawah.

Leave a Reply