Performa Inter Milan saat menghadapi tim-tim besar kembali menjadi sorotan. Kali ini, analis sepak bola Italia sekaligus mantan bek Serie A, Antonio Paganin, memberikan pandangan tajam usai laga Inter kontra Arsenal di San Siro.
Menurutnya, kesulitan Nerazzurri menghadapi klub elite Eropa dan domestik bukanlah sebuah kebetulan semata.
Arsenal Layak Diakui, Inter Harus Realistis
Berbicara di TMW Radio, Paganin lebih dulu memberikan penghormatan penuh kepada Arsenal.
Ia menilai tim asuhan Mikel Arteta memang pantas mendapat pengakuan, mengingat konsistensi dan identitas permainan yang mereka tunjukkan dalam beberapa musim terakhir.
“Fakta bahwa Inter tampil lebih baik di liga domestik memang tidak terbantahkan, tetapi kemarin mereka menghadapi Arsenal, pemuncak klasemen Premier League, yang juga meraih 7 kemenangan dari 7 laga di Liga Champions dan merupakan tim yang sangat sulit dihadapi,’ ujar Paganin.
Menurutnya, Arsenal bukan hanya kuat secara individu, tetapi juga matang dari sisi proyek jangka panjang, identitas permainan, dan kontinuitas.
Dalam konteks ini, Paganin menilai Inter harus menerima kenyataan bahwa saat ini ada tim yang memang berada di level lebih tinggi.
“Sejak awal, Arsenal sudah menunjukkan kekuatannya, tim yang selama bertahun-tahun berada di level tertinggi. Mereka memiliki kekuatan, identitas, dan perencanaan yang jelas. Kita harus menerima kenyataan bahwa saat ini ada tim yang lebih kuat. Soal beberapa penampilan yang kurang maksimal, itu wajar jika Anda menghadapi lawan seperti ini,”
Bukan Kebetulan: Inter Kesulitan Saat Tertekan Hadapi Tim Besar
Namun, kritik utama Paganin justru diarahkan pada pola permainan Inter saat menghadapi tim besar. Ia menegaskan bahwa rekor buruk Nerazzurri melawan lawan-lawan elite, baik di Eropa maupun di Serie A, bukan sekadar faktor kebetulan.
“Bisa saja terlihat seperti kebetulan, tetapi sebenarnya bukan. Jika di Eropa dan di liga domestik Anda kesulitan meraih poin saat melawan tim-tim besar, itu bukan kebetulan,”
Paganin menilai Inter kerap kehilangan kontrol ketika berada di bawah tekanan tinggi. Situasi ini memicu kesalahan-kesalahan mendasar yang akhirnya harus dibayar mahal.
Masalah Mental dan Hilangnya Kepercayaan Diri
Lebih jauh, Paganin menyoroti aspek mental sebagai titik lemah Inter. Ia melihat perbedaan mencolok antara performa Nerazzurri saat menghadapi tim papan tengah ke bawah dengan ketika melawan tim elite.
“Menurut saya, saat Inter berada di bawah tekanan, mereka kesulitan mengelolanya. Kesalahan pun muncul. Mereka terlalu mudah kehilangan kepercayaan diri. Kalau tidak, sulit menjelaskan kenapa hal ini tidak terjadi saat melawan tim menengah atau kecil,” jelasnya.
Analisis ini mengindikasikan bahwa persoalan Inter bukan semata kualitas teknis, melainkan ketahanan mental dan kemampuan mengelola momen krusial dalam laga besar.

Leave a Reply