Gelandang veteran Inter Milan, Henrikh Mkhitaryan angkat bicara soal perubahan besar di ruang ganti Nerazzurri sejak kedatangan Cristian Chivu.
Dalam wawancara terbarunya, pemain berusia 37 tahun itu secara terbuka memuji dampak sang pelatih, bahkan menyebut Chivu memberikan sesuatu yang tidak mampu diberikan pendahulunya, Simone Inzaghi.
Pernyataan ini tentu menarik, mengingat Inzaghi sebelumnya sukses membawa Inter bersaing di level tertinggi Eropa sebelum akhirnya menerima tawaran dari Al-Hilal musim panas lalu.
Bangkit dari Luka Liga Champions
Mkhitaryan mengawali pernyataannya dengan membahas kekecewaan Inter usai tersingkir dari Liga Champions oleh Bodo/Glimt.
“Kami sangat frustrasi, tetapi beberapa jam kemudian kami kembali berlatih dan memikirkan target berikutnya,” ujarnya.
Mentalitas untuk segera bangkit itulah yang menurutnya menjadi kunci. Ia menekankan bahwa memiliki tujuan baru membuat tim tetap fokus dan tidak larut dalam kegagalan.
Musim ini, Inter memang berada di posisi ideal untuk menebus kekecewaan Eropa. Nerazzurri kini memimpin klasemen Serie A dengan keunggulan 10 poin atas rival sekota, AC Milan, dengan 12 laga tersisa.
Sentuhan Chivu yang Berbeda
Menurut Mkhitaryan, salah satu faktor di balik konsistensi Inter musim ini adalah sentuhan berbeda dari Chivu.
“Kami punya Chivu, dan dia memberi kami sesuatu yang tidak bisa diberikan Inzaghi,” tegasnya.
Meski tak merinci secara teknis, konteksnya mengarah pada pendekatan mental dan keseimbangan emosional skuad. Chivu, meski minim pengalaman di level senior, dinilai mampu membangun ketenangan dan rasa tanggung jawab kolektif.
Hasilnya terlihat jelas: Inter berada di jalur juara Serie A pada musim debut Chivu di San Siro.
“Seperti yang bisa Anda lihat, kami berada di puncak klasemen. Ini belum selesai, tetapi Anda bisa melihat pekerjaan luar biasa yang telah dilakukan. Saya masih berpikir untuk terus bermain,”
Filosofi Mentalitas: Pelajaran dari Thomas Tuchel
Menariknya, Mkhitaryan juga mengungkap momen penting dalam kariernya saat masih berusia 26 tahun bersama Borussia Dortmund, di bawah asuhan Thomas Tuchel.
Ia mengaku sempat menjalani musim buruk sebelum Tuchel menyarankannya membaca buku berjudul My Life Always at the Center. Dari situ, ia belajar bahwa ketegangan berlebihan justru menghambat performa.
“Ketika saya berusia 26 tahun, saya bertemu Tuchel di Dortmund. Saat itu, saya sedikit tegang karena musim sebelumnya. Saya mengalami musim yang buruk,”
“Ketika Anda lebih rileks di momen penting, Anda bisa sukses,” jelasnya.
Mentalitas itu masih ia pegang hingga kini, bahkan di usia 37 tahun.
Masa Depan Mkhitaryan: Pensiun? Belum!
Kontrak Mkhitaryan akan habis Juni mendatang, dan Inter belum memutuskan apakah akan menawarkan perpanjangan. Namun satu hal pasti: sang pemain belum memikirkan pensiun.
“Saya belum berpikir untuk pensiun. Saya mencoba menikmati setiap hari,” katanya.
Ia mengakui bahwa di usia sekarang, tubuh harus dikelola dengan lebih cermat. Tetapi semangatnya tetap sama: memberikan yang terbaik dan tidak meninggalkan penyesalan.
“Saya mencoba memberikan yang terbaik untuk bermain selama mungkin dan tidak menyesal setelahnya,”
Soal kemungkinan menjadi pelatih? Untuk saat ini, ia belum melihat dirinya berada di jalur tersebut.
“Menjadi pelatih butuh banyak waktu dan energi. Saat ini saya tidak melihat diri saya di sana, tapi jangan pernah berkata tidak.”

Leave a Reply