Presiden Inter Milan, Beppe Marotta, akhirnya angkat bicara soal kontroversi Derby d’Italia yang kembali memecah opini publik.
Berbicara usai rapat Lega Serie A, Marotta menilai terjadi “penghakiman publik” berlebihan terhadap Alessandro Bastoni serta menyinggung kembali luka lama yang menurutnya merugikan Inter, termasuk momen ketika Juventus lolos ke Liga Champions berkat penalti kontroversial.
Pernyataannya keras, tajam, dan sarat pesan politik sepak bola.
Persekusi Bastoni Dinilai Berlebihan
Marotta menyebut bahwa Bastoni menjadi korban “gogna” atau persekusi media yang melampaui kejadian di lapangan.
“Posisi kami sangat sederhana: kami melihat ada sikap media yang berlebihan terhadap kejadian tersebut. Bastoni menjadi sasaran penghakiman publik yang melampaui apa yang sebenarnya terjadi: ia berusia 26 tahun dan sudah memainkan lebih dari 300 pertandingan. Ia merupakan aset tim nasional dan ada yang bahkan meragukan kehadirannya: itu tidak adil,” ujar Marotta, seperti dilansir FCInter1908.it.
Ia menilai kesalahan yang terjadi hanyalah kekhilafan seorang pemain muda, sesuatu yang wajar dalam sepak bola penuh emosi.
“Ini tentu kesalahan seorang pemain muda, tetapi siapa yang tidak pernah melakukannya? Jika berbicara tentang diving, itu adalah tindakan yang sudah dikenal sejak era 1950-an: itu hal yang biasa terjadi, tercela, tetapi dibesar-besarkan,”
“Namun ada faktor-faktor yang menyertainya: ada lengan Kalulu dan ada pula peluit wasit. Itu adalah keputusan yang salah dan saya mengakuinya,”
Inter Pernah Kehilangan Scudetto karena Wasit
Marotta kemudian mengingatkan publik bahwa Inter pernah kehilangan gelar hanya selisih satu poin, dalam musim yang juga diwarnai kontroversi keputusan wasit.
“Kami pernah kehilangan scudetto hanya selisih satu poin, dan dalam laga Inter–Roma pernah diakui ada kesalahan yang justru menguntungkan kami. Kami tetap menerima keputusan tersebut,”
Ia menegaskan bahwa klub selalu menerima keputusan tersebut tanpa polemik berlebihan.
Menurutnya, ketidakpuasan terhadap wasit bukan hanya terjadi sekarang, tetapi bagian dari dinamika kompetisi yang perlu dikelola dengan tanggung jawab bersama:
“Kita sedang menghadapi sebuah ketidaknyamanan atau masalah yang lebih luas: baiklah, kita harus mengambil tanggung jawab: para wasit, klub-klub, dan federasi. Apa yang terjadi di sini juga terjadi di luar negeri,”
Ia mendorong adanya dialog terbuka dan peningkatan sanksi, termasuk denda finansial, terhadap pelanggaran verbal yang dinilai sudah melewati batas.
“Kita harus berdialog tanpa polemik dan memperberat sanksi untuk semua pihak, bukan hanya secara disipliner tetapi juga secara finansial. Sering kali batas dilampaui, bahkan secara verbal, dengan cara yang tidak dapat diterima,”
Sindiran ke Juventus: “70 Juta dari Diving”
Bagian paling tajam dari pernyataan Marotta adalah ketika ia mengungkit laga Juventus vs Inter musim 2020/21.
Dalam laga tersebut, penalti diberikan kepada Juventus setelah insiden yang melibatkan Juan Cuadrado. Belakangan, otoritas teknis menyatakan kejadian tersebut sebagai diving.
Wasit pertandingan saat itu adalah Calvarese. Marotta menekankan bahwa Juventus kemudian lolos ke Liga Champions, yang menurutnya bernilai sekitar 60–70 juta euro bagi klub.
“Saya hanya ingin mengingatkan satu episode kecil yang berkaitan dengan Juve–Inter pada 2021. Penalti untuk Juventus atas diving yang jelas dari Cuadrado yang diberikan oleh Calvarese: baik wasit maupun otoritas teknis mengatakan itu adalah diving yang nyata. Dan Juventus lolos ke Liga Champions, membawa 60–70 juta euro,”
Pernyataan ini jelas menyiratkan bahwa keputusan wasit bisa berdampak besar secara finansial.
Inter Selalu Jadi Pusat Kontroversi?
Marotta juga menyentil narasi bahwa kekacauan selalu terjadi ketika Inter terlibat.
Menurutnya, hal tersebut tak lepas dari fakta bahwa Inter menjadi salah satu klub paling sukses dalam beberapa tahun terakhir.
“Kekacauan hanya terjadi ketika menyangkut Inter? Jawabannya adalah karena Inter adalah klub yang paling banyak menang dalam beberapa tahun terakhir.”

Leave a Reply