Lini Serang Inter Milan Era Chivu Lebih Ideal Dibanding Inzaghi

Perubahan besar tengah terasa di tubuh Inter Milan, khususnya di lini serang. Media Italia menilai wajah baru lini depan Nerazzurri memberi keuntungan signifikan bagi Cristian Chivu, sesuatu yang disebut tak sepenuhnya dimiliki Simone Inzaghi di masa lalu.

La Gazzetta dello Sport menyoroti bagaimana komposisi penyerang Inter saat ini jauh lebih seimbang, dalam, dan fleksibel. Meski duet utama Lautaro Martínez dan Marcus Thuram tetap menjadi andalan, kekuatan Inter di era Chivu justru terletak pada kualitas lapis kedua yang kini jauh lebih produktif ketimbang musim lalu.

Kedalaman Skuad Jadi Pembeda Utama

Dalam laga melawan Sassuolo, Chivu diperkirakan kembali mengandalkan kombinasi Lautaro–Thuram sejak menit awal. Namun sorotan utama bukan hanya pada starter, melainkan kontribusi luar biasa dari Francesco Pio Esposito dan Ange-Yoan Bonny.

Dua penyerang muda itu telah menyumbang total 10 gol di semua kompetisi sejauh musim ini, angka yang kontras tajam dengan situasi musim lalu, ketika opsi rotasi Inter nyaris tak memberi dampak signifikan.

Statistik Bicara: Inter Lebih Tajam dan Efisien

Empat penyerang utama Inter musim ini telah mencetak total 40 gol dalam 34 pertandingan di semua ajang, dengan rincian:

  • Lautaro Martínez: 17 gol
  • Marcus Thuram: 11 gol
  • Ange-Yoan Bonny: 7 gol
  • Francesco Pio Esposito: 5 gol

Rata-rata gol Inter pun melonjak menjadi 1,18 gol per pertandingan.

Sebagai perbandingan, musim lalu di bawah Inzaghi, lini depan Inter hanya menghasilkan 54 gol dari 63 pertandingan, dengan rata-rata hanya 0,87 gol per pertandingan.

Kala itu, beban mencetak gol nyaris sepenuhnya bertumpu pada Lautaro dan Thuram, sementara nama-nama seperti Marko Arnautovic, Joaquin Correa, hingga Mehdi Taremi gagal menjadi solusi yang konsisten.

Fleksibilitas Taktik ala Chivu

Kini situasinya berubah drastis. Chivu bisa melakukan rotasi tanpa menurunkan kualitas permainan. Setiap penyerang membawa karakter berbeda, baik dari segi mobilitas, penyelesaian akhir, hingga kontribusi dalam pressing.

Keberagaman profil ini membuat permainan Inter lebih sulit ditebak, sekaligus mengurangi risiko kelelahan fisik pada pemain inti. Lini depan Nerazzurri tidak lagi bergantung pada satu skema atau dua nama saja.

Singkatnya, “musik” di lini serang Inter telah berubah. Jika musim lalu Nerazzurri menari dengan pasangan yang sama setiap pekan, kini Chivu punya banyak opsi untuk mengatur ritme dan tempo permainan.

Dengan kedalaman skuad yang solid dan produktivitas yang merata, Inter Milan menjelma menjadi salah satu tim dengan lini serang paling seimbang dan berbahaya di Serie A.

Tak heran jika media Italia menilai Cristian Chivu kini berada dalam posisi yang jauh lebih menguntungkan dibanding pendahulunya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*