Menjelang duel panas melawan Inter Milan pada pekan ke-18 Serie A 2025-26, penyerang Bologna, Thijs Dallinga, mengirim sinyal tegas bahwa timnya siap kembali bersaing di papan atas.
Dalam wawancara bersama La Gazzetta dello Sport, striker asal Belanda itu menyoroti satu aspek krusial yang membuat laga kontra Inter Milan memiliki arti khusus.
Pertandingan melawan Nerazzurri bukan hanya soal gengsi, tetapi juga tentang ambisi Bologna untuk naik kembali di klasemen dan mengukuhkan status mereka sebagai penantang serius di Italia.
Kilas Balik 2025 yang Berkesan bagi Dallinga
Tahun 2025 menjadi periode emas bagi Dallinga bersama Bologna. Ketika diminta memilih gol paling berkesan, jawabannya mencerminkan perjalanan emosional yang kuat.
“Gol kedua dari tiga gol ke gawang Empoli di semifinal Coppa Italia,” ujar Dallinga.
Namun bukan berarti gol lainnya kalah istimewa. Gol ke gawang Napoli dinilainya luar biasa, sementara satu momen lain ia sebut tak terlupakan.
“Kemudian gol melawan Napoli sangat fantastis, tetapi gol ke gawang Dortmund itu tak terlupakan,”
“Setiap anak bermimpi mencetak gol di Liga Champions. Melihat kebahagiaan orang-orang di sekitar kami, ditambah itu adalah kemenangan pertama kami, membuat gol tersebut sangat berarti,”
Pernyataan ini menegaskan bahwa Dallinga bukan hanya striker tajam, tetapi juga pemain yang hidup dari momen besar.
Inter Jadi Ujian Penting Bologna
Fokus kini beralih ke Inter Milan, lawan yang belakangan lebih sering memberi hasil positif bagi Bologna dibandingkan tim-tim besar lainnya.
Namun Dallinga menegaskan bahwa pertandingan ini memiliki bobot tersendiri.
“Kami sudah membuktikan bisa bersaing dengan semua tim besar di Italia. Melawan Inter akan menjadi laga penting terutama karena satu hal: kami ingin kembali ke papan atas klasemen,”
Pernyataan tersebut memperjelas misi Bologna. Bukan sekadar bertahan atau mencuri poin, tetapi mengukuhkan ambisi sebagai protagonis Serie A, bahkan hingga 2026.
Persaingan Sehat di Lini Depan: Dallinga, Castro, dan Immobile
Bologna musim ini memiliki kedalaman lini depan yang menarik. Kehadiran Santiago Castro dan Ciro Immobile menciptakan persaingan sehat yang justru memperkaya kualitas tim.
Bagi Dallinga, Immobile bukan sekadar rekan setim, melainkan sumber pembelajaran berharga.
“Hanya dengan melihat Immobile bermain saja sudah menjadi pelajaran. Kami bertiga saling membantu. Dan yang istimewa, setelah latihan, Ciro selalu menyempatkan diri memberi kami saran,”
Ia menambahkan bahwa perhatian Immobile bukan hanya bersifat teknis, tetapi juga humanis.
“Itu bukan cuma mendidik, tapi juga sikap yang hangat. Saya tidak tahu apakah hal seperti itu ada di setiap tim.”

Leave a Reply