Inter Milan Bisa Dipaksa Jual Bintang di Musim Panas Jika Gagal ke 16 Besar Liga Champions

Kekalahan 1-3 dari Bodo/Glimt pada leg pertama play-off Liga Champions 2025-26 membuat Inter Milan berada di ujung tanduk.

Bukan hanya soal harga diri dan ambisi Eropa, tetapi juga soal dampak finansial besar yang bisa mengguncang rencana mercato musim panas 2026.

Menurut laporan Tuttosport via FCInter1908, kegagalan lolos ke babak 16 besar Liga Champions dapat memaksa Inter melakukan penjualan menyakitkan demi menyeimbangkan neraca keuangan.

Dampak Finansial yang Tidak Main-Main

Musim lalu, Inter meraup lebih dari 185 juta euro dari kampanye Liga Champions mereka. Pendapatan tersebut menjadi faktor krusial dalam:

  • Membukukan laba sebesar 35,4 juta euro
  • Mengakhiri periode kerugian panjang
  • Menutup bayang-bayang defisit rekor 246 juta euro pada musim 2020/21

Keberhasilan finansial itu memberi stabilitas dan membuka ruang investasi.

Namun musim ini situasinya berbeda.

Jika gagal melangkah ke 16 besar, Inter diperkirakan kehilangan lebih dari 60 juta euro dibanding musim sebelumnya. Angka tersebut bukan sekadar selisih kecil, itu adalah jurang yang bisa mengganggu seluruh strategi transfer.

Ancaman Penjualan Pemain Top

Pemilik klub, Oaktree, disebut telah menyiapkan dana besar untuk memperkuat skuad musim panas nanti. Beberapa posisi prioritas antara lain:

  • Kiper utama baru
  • Minimal satu bek tengah
  • Winger (jika Denzel Dumfries hengkang)
  • Satu atau dua gelandang tambahan

Namun semua rencana ambisius ini sangat bergantung pada pendapatan Liga Champions.

Tanpa tambahan dana dari fase gugur, Inter berpotensi menghadapi tekanan untuk menjual satu pemain bintang demi menjaga keseimbangan keuangan.

Situasi ini mengingatkan pada era pandemi ketika Inter harus melepas nama besar seperti:

  • Achraf Hakimi
  • Romelu Lukaku

Penjualan tersebut kala itu menjadi solusi darurat akibat tekanan finansial berat.

Oaktree dan Realitas Neraca

Sejak pengambilalihan oleh Oaktree, Inter menerapkan pendekatan lebih disiplin secara finansial. Targetnya jelas: pertumbuhan berkelanjutan tanpa kembali terjerumus dalam defisit besar.

Jika gagal lolos dari hadangan Bodo/Glimt pada leg kedua, Inter harus menghadapi realitas:

  • Margin belanja menyempit
  • Target top player bisa tertunda
  • Potensi “painful sale” terbuka

Dan itu bisa berarti melepas pemain bernilai tinggi demi menjaga stabilitas klub.

Leg Kedua yang Bernilai Puluhan Juta Euro

Pertandingan leg kedua melawan Bodo/Glimt kini bukan sekadar soal tiket ke babak 16 besar.

Ini adalah laga bernilai 60 juta euro.

Keberhasilan comeback akan menjaga:

  • Arus kas kompetisi Eropa
  • Rencana belanja musim panas
  • Stabilitas finansial jangka menengah

Sebaliknya, kegagalan bisa memaksa manajemen mengambil keputusan berat yang mungkin tidak populer di mata fans.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*