Inter 1-2 Bodo/Glimt (Agg. 2-5): Mimpi Buruk Nerazzurri di Liga Champions

Petualangan Inter Milan di Liga Champions musim ini resmi berakhir dengan cara yang menyakitkan.

Bermain di hadapan publik sendiri di leg kedua playoff fase gugur, Rabu (25/2/26) dini hari WIB, Nerazzurri kembali takluk 1-2 dari Bodo/Glimt, membuat agregat akhir menjadi 2-5.

Kekalahan ini menandai salah satu malam paling kelam Inter Milan di pentas Eropa dalam beberapa tahun terakhir.

Setelah tumbang 1-3 pada leg pertama di Norwegia, Inter datang dengan misi mustahil. Namun alih-alih bangkit, mereka kembali dipermalukan oleh tim kejutan asal Skandinavia yang tampil solid, disiplin, dan klinis.

Leg Pertama yang Menentukan Arah Bencana

Kekalahan 3-1 di Norwegia menjadi fondasi kehancuran Inter. Tidak hanya hasil buruk, Nerazzurri juga kehilangan kapten mereka, Lautaro Martinez, yang mengalami cedera soleus di lapangan sintetis dan harus menepi selama sebulan. Absennya sang bomber jelas menggerus daya gedor tim.

Selain Lautaro, Hakan Calhanoglu juga belum fit, meski kabar baik datang dari kembalinya Denzel Dumfries ke bangku cadangan setelah operasi pergelangan kaki.

Pelatih pun mempercayakan lini tengah kepada Davide Frattesi ketimbang Henrikh Mkhitaryan sejak menit awal.

Di sisi lain, Bodo/Glimt datang dengan skuad penuh usai pemusatan latihan di Spanyol. Fokus penuh mereka pada Liga Champions sejak September terbukti menjadi keuntungan besar.

Dominasi Tanpa Gol: Inter Tumpul di Depan Gawang

Sejak menit awal, Inter langsung menekan. Francesco Pio Esposito hampir membuka skor lewat sundulan hasil umpan silang Federico Dimarco. Tak lama kemudian, sepakan melengkung Dimarco juga memaksa kiper Nikita Haikin melakukan penyelamatan akrobatik.

Marcus Thuram tampil aktif dengan tusukan-tusukan dari sisi kiri, namun penyelesaian akhir selalu menemui tembok pertahanan kokoh yang dikawal Odin Bjortuft.

Frattesi, Esposito, hingga Alessandro Bastoni silih berganti menciptakan peluang, tetapi efektivitas menjadi masalah utama. Bahkan Piotr Zielinski yang mencoba peruntungan dari jarak jauh pun gagal menemui sasaran.

Sementara itu, Yann Sommer masih harus bekerja keras mengamankan gawang dari ancaman sporadis Bodo/Glimt, termasuk sundulan bebas dari Hakon Evjen.

Kesalahan Fatal dan Gol yang Menghancurkan Harapan

Memasuki babak kedua, situasi berubah drastis. Petaka datang ketika Manuel Akanji melakukan kesalahan fatal di tepi kotak penalti sendiri. Bola direbut Ole Didrik Blomberg yang memaksa Sommer melakukan penyelamatan gemilang, namun rebound jatuh ke kaki Jens-Petter Hauge. Gol pun tercipta.

Agregat melebar menjadi 4-1 dan mental Inter runtuh seketika.

Tak berhenti di situ, kombinasi apik Hauge dan Evjen kembali menghukum tuan rumah. Sentuhan pertama Evjen begitu elegan sebelum melepaskan tembakan terarah ke sudut bawah gawang. Skor agregat berubah menjadi 5-1, praktis mengunci nasib Inter Milan.

Upaya Bastoni memperkecil ketertinggalan melalui situasi sepak pojok hanya menjadi gol hiburan. Bola sempat ditepis Haikin, tetapi sudah sepenuhnya melewati garis.

Analisis: Mengapa Inter Bisa Tersingkir?

Kekalahan ini bukan sekadar soal hasil, melainkan cerminan beberapa masalah mendasar:

1. Transisi Bertahan yang Rapuh

Gol pertama berawal dari kesalahan individu, tetapi juga menunjukkan kurangnya ketenangan dalam membangun serangan dari belakang.

2. Kurangnya Efektivitas

Banyak peluang tercipta, namun minim konversi menjadi gol. Di Liga Champions, efektivitas adalah segalanya.

3. Mentalitas di Momen Besar

Bodo/Glimt tampil tanpa beban dan penuh percaya diri. Sebaliknya, Inter terlihat terburu-buru dan mudah frustrasi.

Susunan Pemain

INTER (3-5-2): 1 Sommer; 31 Bisseck (2 Dumfries 81′), 25 Akanji, 95 Bastoni; 11 Luis Henrique (17 Diouf 62′), 16 Frattesi (14 Bonny 62′), 7 Zielinski (8 Sučić 62′), 23 Barella, 32 Dimarco (30 Carlos Augusto 81′); 94 P. Esposito, 9 Thuram.

Pelatih: Cristian Chivu.

BODØ/GLIMT (4-3-3): 12 Haikin; 20 Sjøvold, 4 Bjørtuft, 6 Gundersen, 15 Bjørkan (5 Aleesami 85′); 26 Evjen (14 Saltnes 81′), 7 Berg, 19 Brunstad Fet; 11 Blomberg (25 Määttä 77′), 9 Høgh (21 Helmersen 77′), 10 Hauge.

Pelatih: Kjetil Knutsen.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*