Cristian Chivu menunjukkan sikap kepemimpinan sejati usai kemenangan dramatis Inter Milan atas Pisa dalam laga pekan ke-22 Serie A 2025-26, Sabtu (24/1/2026) dini hari WIB.
Meski Nerazzurri sempat tertinggal Dua gol, Nerazzurri bangkit dan membalikkan keadaan dengan kemenangan meyakinkan.
Namun sorotan utama bukan hanya soal skor, melainkan kejujuran Chivu dalam mengakui kesalahan, terutama terkait blunder Yann Sommer di awal laga.
Berbicara kepada DAZN, pelatih Inter itu menegaskan bahwa kesalahan yang terjadi di lapangan adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai pelatih, bukan semata kesalahan individu pemain.
Chivu secara terbuka menjelaskan situasi yang berujung pada gol Pisa, termasuk kesalahan distribusi Sommer yang dimanfaatkan Stefano Moreo.
“Kami kebobolan karena kesalahan sendiri, tapi itu salah saya, karena permintaan-permintaan tertentu kepada kiper datang dari saya. Kadang saya memang menempatkan Yann dalam situasi sulit,” ujar Chivu.
Ia juga menyinggung gol kedua Pisa yang lahir dari bola mati, menegaskan bahwa Inter harus belajar dari momen-momen tersebut tanpa kehilangan fokus dan identitas permainan.
“Lalu kami juga kebobolan lewat situasi bola mati. Setelah itu kami mengeluarkan rasa bangga, terus melaju dengan kualitas dan intensitas, dan akhirnya kami berhasil membalikkan keadaan,”
Perubahan Taktik yang Menjadi Titik Balik
Keputusan Chivu menarik Luis Henrique lebih awal sempat mengejutkan, namun sang pelatih menilai pergantian tersebut krusial.
“Pergantian Luis Henrique? Pertandingan berlangsung hampir 100 menit dan bisa dibalikkan. Kami butuh melakukan hal-hal tertentu meski pendekatan awal tidak sepenuhnya buruk,” jelasnya.
Masuknya Federico Dimarco terbukti mengubah dinamika permainan. Intensitas meningkat, kualitas Inter keluar, dan gol demi gol akhirnya tercipta.
Mentalitas Juara Jadi Kunci Kebangkitan Inter
Menurut Chivu, kunci kemenangan bukan hanya taktik, melainkan sikap dan kesiapan mental timnya.
“Yang terpenting adalah bagaimana bereaksi. Kami bisa saja runtuh, tapi justru terus bermain dengan cara kami,”
Ia mengakui sedikit penyesalan karena Inter terlambat memastikan keunggulan, namun tetap memberikan pujian penuh kepada para pemain yang dinilainya telah mengerahkan segalanya demi musim yang kompetitif.
Chivu Bela Pemain: “Saat Salah, Itu Tanggung Jawab Saya”
Dalam pernyataan yang mencerminkan kepemimpinan kuat, Chivu menegaskan bahwa setiap kesalahan pemain adalah tanggung jawabnya sebagai pelatih.
“Jika mereka salah, itu selalu salah saya. Tapi ketika semuanya berjalan baik, merekalah protagonisnya,”
Sepak Bola, Tapi Keluarga Tetap Nomor Satu
Saat ditanya soal apakah ia akan menyaksikan laga besar seperti Juventus vs Napoli dan Roma vs Milan, jawaban Chivu justru penuh sisi humanis.
“Saya mencintai sepak bola dan menonton banyak pertandingan untuk belajar. Tapi keluarga tetap prioritas,”
Ia mengaku sering mengorbankan waktu bersama istri dan anak-anak demi tim, dan karena itu sesekali perlu “memutus sambungan” dari sepak bola.
“Kadang perlu berhenti sejenak dan tidak memikirkan sepak bola. Keluarga selalu di tempat pertama.” Tutup Chivu dengan senyum.

Leave a Reply