Kekalahan 3-1 dari Bodø/Glimt di Norwegia menjadi pukulan bagi Inter Milan pada leg pertama play-off UEFA Champions League, Kamis (19/2/2026) dini hari WIB.
Namun, pelatih Nerazzurri, Cristian Chivu, menegaskan bahwa peluang lolos ke 16 besar masih terbuka lebar jelang leg kedua di San Siro.
Dalam wawancara bersama Sky Sport, Chivu mengakui timnya sudah memperkirakan laga sulit di tengah suhu ekstrem dan lapangan sintetis yang menantang.
Adaptasi Jadi Kunci, Transisi Jadi Masalah
“Kami tahu seperti apa pertandingan ini, kami tahu ini tidak akan mudah. Babak pertama sudah menjadi buktinya,” ujar Chivu.
Menurutnya, faktor cuaca dan kondisi lapangan membuat adaptasi berjalan tidak sederhana. Inter sempat mencoba berbagai solusi taktis dan mampu menyamakan kedudukan, tetapi kehilangan fokus di babak kedua menjadi titik balik pertandingan.
“Beradaptasi dengan kondisi seperti ini tidaklah sederhana. Kami mencoba beberapa solusi, berusaha menciptakan sesuatu, lalu kebobolan, tetapi kami berhasil kembali ke dalam pertandingan,”
“Kami memulai babak kedua dengan baik, punya dua peluang emas. Tapi kemudian kami sedikit terkejut dalam penguasaan bola. Kami tidak seharusnya kehilangan bola dalam transisi, karena di situ mereka sangat kuat, intensitas dan kualitas mereka luar biasa,” jelasnya.
Chivu menilai kunci tiga gol yang bersarang ke gawang Inter adalah kelengahan saat kehilangan bola dan lambatnya reaksi dalam fase bertahan (preventive defense).
Lautaro Cedera, Situasi Makin Sulit
Kabar kurang baik datang dari kondisi kapten tim, Lautaro Martinez.
“Menurut saya dia mengalami cedera. Untuk sementara waktu kami akan kehilangan dia,” ungkap Chivu.
Absennya Lautaro tentu menjadi kerugian besar bagi Inter, mengingat perannya sebagai pemimpin lini depan dan sumber gol utama.
Bodø/Glimt Bukan Sekadar Kejutan
Chivu juga memuji kualitas lawan yang dinilai tampil sangat efektif, terutama dalam transisi cepat.
“Kami sudah mengantisipasi pressing mereka, seperti saat mereka melawan City. Yang mengesankan adalah intensitas dan kualitas permainan mereka, terutama saat blok rendah dan transisi. Bola pertama yang mereka rebut selalu diarahkan ke depan,”
Menurutnya, Bodø/Glimt adalah tim dengan identitas jelas dan mampu tampil lebih berbahaya ketika bermain di kandang sendiri.
“Mereka adalah tim yang punya kualitas, dan di lapangan ini mereka selalu mampu melakukan sesuatu yang lebih dibandingkan lawan-lawannya,”
Fokus ke Serie A, Lalu Balas di San Siro
Meski kecewa, Chivu menegaskan bahwa tim harus segera melupakan kekalahan ini karena jadwal padat sudah menanti di Serie A. Setelah itu, barulah fokus penuh diarahkan ke leg kedua.
“Kami harus pandai melupakan pertandingan ini. Dalam tiga hari ada laga Serie A, lalu kami punya waktu memikirkan leg kedua. Semua masih terbuka.”
Dengan agregat 3-1, Inter memang dalam posisi tertinggal. Namun bermain di San Siro memberi harapan besar untuk membalikkan keadaan.

Leave a Reply