Çalhanoğlu: “Jangan Pernah Remehkan Lawan, Inter Pernah Kalah dari Bodo/Glimt”

Gelandang andalan Inter Milan, Hakan Calhanoglu, memberikan pernyataan tegas jelang laga krusial Timnas Turki melawan Kosovo di babak final playoff menuju Piala Dunia 2026.

Dalam konferensi pers bersama pelatih Vincenzo Montella, Calhanoglu menegaskan satu hal penting: tidak ada ruang untuk meremehkan lawan, bahkan yang dianggap “lebih lemah”.

Belajar dari Inter: Jangan Pernah Anggap Remeh Lawan

Calhanoglu mengingatkan timnya bahwa kejutan bisa terjadi kapan saja dalam sepak bola. Ia bahkan menyinggung pengalaman pahit bersama Inter Milan saat menghadapi Bodo/Glimt.

“Saya tidak pernah meremehkan siapa pun. Bersama Inter, kami pernah tersingkir oleh Bodo. Itu pelajaran besar,” ujar Calhanoglu, seperti dilansir dari FCInter1908.

“Ini bukan tentang kualitas, tetapi tentang siapa yang menunjukkan semangat paling besar. Kami menyadari itu dan kami siap,” sambungnya.

Pesan ini jelas:

  • Nama besar tidak menjamin kemenangan
  • Fokus dan mentalitas jadi penentu utama

Kosovo Bukan Lawan Sembarangan

Meski di atas kertas Turki lebih diunggulkan, Calhanoglu tetap memberikan respek penuh kepada Kosovo.

Ia menyebut beberapa pemain kunci lawan, seperti:

  • Vedat Muriqi
  • Fisnik Asllani

“Mereka tim yang kuat, punya banyak pemain berkualitas seperti Fisnik Asllani. Vedat sangat bagus di depan gawang dan dalam bola mati.. Kita harus mengakuinya,”

Tekanan Besar Jelang Laga Penentuan

Dengan hanya satu langkah menuju Piala Dunia, tekanan jelas dirasakan oleh skuad Turki.

Namun, Calhanoglu melihat tekanan sebagai bagian dari perjalanan:

“Ini bukan soal kualitas saja, tapi siapa yang punya hati lebih besar di lapangan,”

Ia menegaskan bahwa timnya:

  • Sangat termotivasi
  • Siap menghadapi tekanan
  • Bertekad memberikan yang terbaik untuk negara

Mimpi Piala Dunia Sejak Kecil

Bagi Calhanoglu, tampil di Piala Dunia bukan sekadar target. Ini adalah mimpi masa kecil.

Ia mengenang generasi emas Turki di tahun 2002 sebagai inspirasi besar.

“Piala Dunia adalah mimpi yang kami miliki sejak kecil… Pada 2002, ‘kakak-kakak’ kami berhasil mencapainya, dan kami tumbuh dengan memimpikan momen itu. Sekarang giliran saya turun ke lapangan, hanya tersisa satu pertandingan lagi. Prioritas kami adalah mewakili negara dengan sebaik mungkin dan membuat rakyat kami bangga,”

Dengan atmosfer tim yang positif dan perkembangan signifikan di bawah Montella, optimisme mulai tumbuh di dalam skuad.

Loyalitas dan Kebanggaan Membela Turki

Meski lahir dan besar di Jerman, Hakan Calhanoglu memilih membela Turki, keputusan yang ia anggap sebagai panggilan hati.

“Saya belajar bahwa yang terpenting adalah mengikuti hati.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*