Biasin Kritik Inter: “Bukan Lagi Soal Sial, Ini Masalah Mental”

Kegagalan Inter Milan melangkah ke final Supercoppa Italiana 2025 menyisakan luka lama yang belum sembuh: kutukan adu penalti.

Kekalahan dari Bologna lewat drama tos-tosan di Riyadh bukan sekadar soal hasil, tetapi kembali menegaskan masalah serius yang sudah bertahun-tahun menghantui Nerazzurri.

Komentar tajam datang dari jurnalis Italia, Fabrizio Biasin, yang menilai Inter Milan tak bisa lagi berlindung di balik kata “sial” setiap kali kalah lewat adu penalti.

Biasin: Delapan Tahun Tanpa Menang Penalti, Itu Bukan Kebetulan

Melalui akun X (Twitter), Biasin menyoroti fakta yang sulit dibantah. Menurutnya, kegagalan Inter di adu penalti bukan peristiwa acak, melainkan pola yang terus berulang.

“Tidak cukup hanya satu babak kedua yang dimainkan dengan level bagus: Inter runtuh di titik penalti, Bologna ke final. Mereka menyebutnya ‘lotere penalti’, tapi jika kamu tidak memenanginya selama Delapan tahun (adu penalti), percuma bicara soal nasib buruk,” tulis Biasin.

Statistik tersebut menjadi alarm keras. Delapan tahun tanpa kemenangan dalam adu penalti menunjukkan adanya persoalan mental, kepercayaan diri, dan persiapan teknis, bukan sekadar keberuntungan.

Dominan, Tapi Gagal Menghabisi

Secara permainan, Inter sebenarnya tidak tampil buruk. Di babak kedua, pasukan Cristian Chivu mampu mengendalikan tempo, menciptakan peluang, dan menekan Bologna.

Namun kegagalan mematikan pertandingan dalam 90 menit kembali memaksa Inter ke wilayah yang paling mereka takuti: adu penalti.

Di momen krusial itulah, trauma lama seakan muncul kembali. Eksekusi yang ragu, kurang tenang, dan mudah dibaca lawan menjadi gambaran nyata masalah Inter dari titik putih.

Satu Sisi Positif: Pepo Martinez Bersinar

Di tengah kekecewaan, Biasin tetap menyoroti satu kabar baik bagi Inter.

“Untuk Inter, hanya ada satu kabar positif: pertandingan luar biasa dari Pepo Martinez,” lanjutnya.

Penampilan impresif Josep ‘Pepo’ Martinez di bawah mistar menjadi salah satu alasan Inter mampu bertahan hingga adu penalti.

Refleks cepat, ketenangan, dan keberanian dalam duel satu lawan satu menunjukkan bahwa Inter memiliki fondasi kuat di sektor penjaga gawang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*