Kekecewaan Inter Milan kembali mengikuti pola yang terasa familiar. Kekalahan dari Bologna di Semifinal Supercoppa Italiana 2025 di Riyadh merupakan pengulangan masalah lama yang terus muncul di momen paling krusial, yakni kesalahan di dalam kotak penalti sendiri.
Sorotan tertuju pada Yann Bisseck. Handball yang dilakukannya, sebuah intervensi spontan dan salah perhitungan, mengubah arah pertandingan yang sejatinya berada dalam kendali Inter.
Handball Bisseck: Insiden Berulang
Yang membuat kejadian ini semakin mengkhawatirkan bukanlah kesalahan tunggalnya, melainkan pola berulang.
Media Italia, termasuk SportMediaset, menilai ini bukan sekadar nasib buruk.
Musim lalu, ambisi Inter dalam perburuan Scudetto sudah ternoda oleh dua momen serupa:
- Genoa: penalti telat akibat handball Bisseck yang merusak awal musim
- Lazio: sentuhan tangan krusial yang kembali berujung hukuman, menggagalkan Inter menyalip Napoli di pekan-pekan penentuan
Rangkaian ini membentuk benang merah yang jelas, sebuah kelemahan yang belum sepenuhnya teratasi.
Intensitas Tinggi yang Berbalik Jadi Bumerang
Bisseck dikenal sebagai bek dengan fisik dominan dan agresivitas tinggi. Saat keluar dari garis untuk memotong serangan atau membawa bola ke depan, atribut ini menjadi kekuatannya.
Namun di area berisiko tinggi, khususnya di dalam kotak penalti sendiri, intensitas yang sama sering berubah menjadi kecerobohan.
Di level tertinggi, satu keputusan sepersekian detik, mengangkat lengan terlalu tinggi atau refleks yang keliru bisa berujung fatal. Dan Inter telah membayar mahal untuk itu.
Kebiasaan mahal ini, jika terus berulang, akan menggerogoti kepercayaan diri dan mengganggu konsistensi musim.

Leave a Reply