Sebuah statistik menarik muncul di kubu Inter Milan dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam Tiga pertandingan terakhir Serie A kontra Napoli, Fiorentina, dan Verona, Lima dari Enam gol Inter datang dari lini tengah, bukan dari para penyerang. Satu gol lainnya bahkan merupakan gol bunuh diri hasil tekanan serangan dari tim asuhan Cristian Chivu.
Fakta ini menimbulkan refleksi di kalangan pengamat dan fans Nerazzurri.
Penurunan daya gedor lini depan menjadi tanda yang tak bisa diabaikan, terutama sejak absennya Marcus Thuram karena cedera.
Menurut Corriere dello Sport, ini bukan sekadar masalah finishing, tetapi juga efek dari beban fisik dan rotasi taktik yang mulai memengaruhi performa lini depan.
“Tim yang bersaing di puncak klasemen butuh kontribusi dari seluruh elemen skuat. Jika satu sektor menurun, sektor lain harus menutup kekurangannya. Inter musim ini adalah mesin yang masih berjalan stabil, bahkan setelah tersendat di Napoli,” tulis media Italia itu.
Gelandang Jadi Penentu: Calhanoglu, Sucic, dan Zielinski
Ketika lini depan tumpul, para gelandang Inter tampil sebagai pahlawan baru.
Dalam tiga laga terakhir Serie A, Calhanoglu, Petar Sucic, dan Piotr Zielinski bergantian mencatatkan nama di papan skor.
- Hakan Calhanoglu menegaskan statusnya sebagai eksekutor piawai dengan gol-gol dari jarak jauh dan bola mati.
- Petar Sucic, rekrutan muda yang terus mencuri perhatian, kembali mencetak gol penting berkat kemampuan eksplosifnya dari lini kedua.
- Dan Zielinski, yang baru menikmati momen terbaiknya bersama Inter, mencetak gol spektakuler ke sudut atas gawang, gol perdananya musim ini yang disebut Corriere dello Sport sebagai “perla da stropicciarsi gli occhi” (permata yang membuat mata tak berkedip).
Gol-gol tersebut menunjukkan bahwa Inter kini memiliki variasi serangan yang lebih kaya dan tak lagi bergantung penuh pada ketajaman striker.
Tanda Keseimbangan Kolektif
Fenomena ini juga menegaskan identitas permainan kolektif Inter di bawah Chivu. Sang pelatih terus menekankan pentingnya kontribusi setiap lini dalam fase menyerang maupun bertahan.
Keterlibatan aktif gelandang seperti Barella, Frattesi, dan Zielinski dalam menciptakan peluang menunjukkan bahwa sistem ini tetap solid meski sektor depan mengalami penurunan produktivitas.
Inter masih menjadi tim dengan salah satu rerata tembakan ke gawang tertinggi di Serie A, menandakan bahwa kreativitas tetap terjaga.
Chivu Tenang, Tapi Tetap Waspada
Meski hasil akhir tetap memuaskan, dengan Inter terus menempel Napoli di puncak klasemen, Chivu dikabarkan mulai memantau kondisi lini depan dengan serius.
Kembalinya Marcus Thuram dari cedera diharapkan bisa menjadi solusi utama untuk mengembalikan efektivitas serangan.
Sementara itu, pelatih asal Rumania itu justru melihat sisi positif dari tren ini.
“Ketika gelandang bisa mencetak gol, itu berarti struktur tim bekerja dengan baik. Tapi kami tetap butuh striker yang tajam, karena mereka adalah penyelesai utama,” ungkap Chivu dalam wawancara pascalaga baru-baru ini.

Leave a Reply