Kekalahan 1-3 yang diderita Inter Milan di markas Bodo/Glimt pada leg pertama playoff Liga Champions 2025-26 memantik banyak analisis tajam. Salah satunya datang dari mantan pelatih legendaris Italia, Fabio Capello, yang meyakini bahwa Nerazzurri masih punya peluang besar membalikkan keadaan saat bermain di kandang.
Capello: Inter Menderita, Tapi Bukan Akhir Segalanya
Berbicara di studio Sky Sport, Capello menilai Inter benar-benar dibuat tidak nyaman oleh gaya permainan agresif Bodo/Glimt. Klub Norwegia itu disebut tampil dengan intensitas tinggi, kompak, dan sangat cepat dalam transisi.
“Bodo sudah menunjukkan hasil-hasil besar sebelumnya. Mereka bermain seperti futsal: lapangan terasa sempit, sangat cepat, selalu rapat, dan langsung menekan lawan,” ujar Capello.
Menurutnya, Inter kesulitan mengembangkan permainan karena tekanan konstan yang diberikan tuan rumah. Penguasaan bola yang biasanya menjadi kekuatan tim asuhan Cristian Chivu tidak berjalan efektif.
“Inter menderita dan hanya punya sedikit peluang. Mereka (Bodo) hampir tidak kehilangan bola dan cepat merebutnya kembali. Mereka tidak memberi Inter kesempatan bermain dengan tempo yang lebih rendah,”
Capello juga menambahkan bahwa ia mengharapkan konsentrasi dan perhatian yang lebih baik dari Inter dalam laga tersebut.
“Saya mengharapkan tingkat konsentrasi yang lebih tinggi dari Inter,”
Faktor Lapangan dan Intensitas Jadi Kunci
Salah satu aspek yang disorot Capello adalah kondisi lapangan sintetis yang dinilai menyulitkan gaya main Inter. Nerazzurri dikenal gemar memainkan bola dari bawah, mengandalkan umpan-umpan pendek dan pergantian sisi cepat—terutama melalui peran wing-back seperti Federico Dimarco.
Namun di Norwegia, skema tersebut hampir tak terlihat.
“Inter bisa membalikkan keadaan. Inter di kandang, di lapangan normal, akan berubah. Mereka tidak bisa bermain seperti malam ini, dengan begitu banyak kesulitan dalam kontrol dan sirkulasi bola,” tegas Capello.
Bodo/Glimt dinilai sukses memutus ritme Inter dan memaksa mereka bermain di luar zona nyaman.
“Inter biasanya mencoba bermain dengan bola di bawah, melakukan pergantian sisi permainan, dengan Dimarco yang mengirim umpan ke tengah, itu mengubah segalanya. Malam ini kita tidak melihat itu sama sekali karena Bodo tidak mengizinkannya. Saya pikir di kandang nanti Inter harus melakukan hal tersebut dan mereka mampu melakukannya.”
Dengan defisit dua gol, Inter memang menghadapi tantangan besar. Namun sejarah kompetisi Eropa telah membuktikan bahwa comeback bukan hal mustahil, terutama bagi tim dengan kualitas dan pengalaman seperti Nerazzurri.

Leave a Reply