Ancaman dan Hujatan Hantam Bastoni Setelah Kartu Merah Kalulu

Setelah insiden yang berujung kartu merah bagi bek Juventus, Pierre Kalulu dalam laga kontra Inter Milan di pekan 25 Serie A 2025-26, gelombang kebencian membanjiri media sosial Alessandro Bastoni dan sang istri, Camilla.

Bek Inter itu menjadi sasaran ratusan komentar berisi hinaan, ancaman, bahkan ujaran kebencian yang menyeret keluarga serta anak-anak mereka.

Situasi tersebut memaksa Bastoni dan istrinya mengambil langkah tegas: menutup kolom komentar di akun Instagram mereka.

Dari Lapangan ke Media Sosial: Ketika Rivalitas Berubah Jadi Ancaman

Insiden di lapangan yang memicu kartu merah untuk Kalulu memancing reaksi emosional sebagian oknum suporter. Namun, reaksi tersebut melampaui batas kewajaran.

Beberapa komentar yang muncul di media sosial mengandung ancaman serius, termasuk doa kematian dan intimidasi terhadap keluarga sang pemain.

Fenomena ini kembali menegaskan bahwa rivalitas sepak bola kerap berubah menjadi ruang pelampiasan kebencian yang tidak terkendali di dunia digital.

Selebrasi Bastoni setelah kartu merah diberikan menuai kritik luas. Banyak pihak menilai gestur tersebut tidak mencerminkan sportivitas.

Dampak Psikologis dan Keamanan Keluarga Pemain

Ancaman terhadap pemain dan keluarga bukan sekadar isu etika, tetapi juga menyangkut aspek keamanan dan kesehatan mental.

Bagi atlet profesional seperti Bastoni, tekanan di lapangan sudah menjadi bagian dari pekerjaan. Namun ketika serangan meluas ke ranah pribadi, terutama melibatkan anak-anak, dampaknya bisa jauh lebih serius.

Menutup kolom komentar menjadi langkah defensif untuk mengurangi eksposur terhadap ujaran kebencian.

Ini bukan pertama kalinya pesepak bola menjadi korban cyberbullying, dan kemungkinan besar bukan yang terakhir jika tidak ada edukasi dan tindakan tegas.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*