Kekalahan menyakitkan dari Inter Milan di Liga Champions ternyata masih membekas dalam benak pelatih Barcelona, Hansi Flick.
Sang juru taktik asal Jerman secara terbuka menyebut kekalahan dari Inter Milan di semifinal Liga Champions musim lalu sebagai “malam terburuk” dalam karier kepelatihannya.
Pernyataan itu muncul setelah Barcelona takluk 0-4 dari Atletico Madrid pada leg pertama semifinal Copa del Rey.
Namun, alih-alih menyebut kekalahan tersebut sebagai titik terendah, Flick justru merujuk pada luka lama di panggung Eropa saat disingkirkan Nerazzurri.
Trauma Semifinal Liga Champions
Musim lalu, Barcelona dan Inter Milan terlibat dalam duel semifinal Liga Champions yang dramatis. Kedua tim bermain dalam agregat spektakuler 7-6 untuk kemenangan Inter Milan.
Gol penentu dicetak oleh Davide Frattesi di babak perpanjangan waktu, momen yang menjadi pukulan telak bagi raksasa Catalan.
Menurut Flick:
“Apakah ini malam terburuk dalam karier saya? Tidak. Malam terburuk adalah saat melawan Inter. Itu yang paling buruk. Di sini kami masih punya peluang untuk bangkit,” ujar Flick.
“Kami tahu itu tidak akan mudah, tetapi kami akan mencoba,” sambungnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan betapa dalamnya dampak kekalahan itu, bukan hanya secara hasil, tetapi secara emosional dan psikologis.
Mengapa Kekalahan dari Inter Begitu Membekas?
Ada beberapa alasan mengapa laga tersebut menjadi titik refleksi terbesar bagi Flick:
- Terjadi di semifinal Liga Champions, panggung tertinggi sepak bola Eropa
- Agregat tinggi dan dramatis, menambah tekanan mental
- Kalah di babak tambahan waktu setelah pertarungan sengit
- Menghentikan peluang Barcelona menuju final Liga Champions
Kekalahan itu bukan sekadar soal skor, tetapi tentang momentum dan harapan yang sirna di detik-detik akhir.

Leave a Reply