Performa Yann Sommer bersama Inter Milan musim ini menghadirkan statistik paradoks menarik.
Di satu sisi, kiper veteran asal Swiss itu mencatat statistik kurang meyakinkan di Serie A. Namun di sisi lain, ia justru masuk tiga besar kiper dengan penyelamatan terbanyak di Liga Champions.
Data ini menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan tifosi Nerazzurri, terutama setelah Sommer sempat mendapat kritik atas performanya.
Statistik Serie A: Minim Saves, Jadi Sorotan
Menurut analisis DAZN via FCInter1908, Yann Sommer menjadi kiper dengan jumlah penyelamatan paling sedikit kedua di Serie A musim ini.
Fakta ini cukup mengejutkan, mengingat ia adalah penjaga gawang utama tim yang memimpin klasemen. Bahkan hanya satu kiper yang mencatat jumlah saves lebih rendah darinya.
Statistik tersebut memperkuat narasi bahwa performa Sommer mengalami penurunan dibandingkan musim lalu. Dalam beberapa laga, ia dinilai kurang sigap dalam mengantisipasi tembakan jarak jauh maupun situasi bola mati.
Tak heran jika pelatih Cristian Chivu sempat mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan kepada Josep Martinez sebagai starter. Namun pada akhirnya, Sommer tetap dipercaya sebagai pilihan utama di bawah mistar.
12 Clean Sheet dalam 18 Laga: Statistik yang Tak Bisa Diabaikan
Meski jumlah penyelamatannya rendah, angka lain justru menunjukkan sisi positif.
Dalam 18 penampilan Serie A, Sommer telah mencatatkan 12 clean sheet, angka yang sangat impresif dan menjadi salah satu yang terbaik di liga.
Mengapa jumlah saves-nya rendah?
Jawabannya terletak pada solidnya pertahanan Inter Milan.
Nerazzurri dikenal sebagai salah satu tim dengan:
- Jumlah tembakan ke arah gawang paling sedikit yang dihadapi
- Struktur pertahanan disiplin
- Transisi bertahan yang cepat
- Organisasi lini belakang yang rapi
Artinya, rendahnya jumlah saves bukan semata karena performa buruk, tetapi juga karena minimnya peluang berbahaya yang dihadapi.
Kontras di Liga Champions: Masuk 3 Besar Saves Terbanyak
Jika di Serie A Sommer jarang “sibuk”, situasinya berbeda di UEFA Champions League.
Di kompetisi elit Eropa itu, ia justru mencatatkan jumlah penyelamatan terbanyak ketiga musim ini.
Hanya kiper dari Bodo/Glimt dan Kairat Almaty yang mencatat angka lebih tinggi darinya.
Statistik ini menunjukkan bahwa ketika Inter menghadapi lawan dengan kualitas serangan lebih tajam, Sommer tetap mampu tampil responsif dan krusial.
Liga Champions jelas menghadirkan intensitas dan tekanan berbeda dibanding Serie A, dan Sommer terbukti masih mampu tampil di level tertinggi.
Apakah Sommer Benar-Benar Menurun?
Secara angka mentah, posisi Sommer di Serie A memang terlihat mengkhawatirkan. Namun statistik harus dibaca dalam konteks.
Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan:
- Inter jarang kebobolan peluang besar
- Sommer tetap mencatat rasio clean sheet tinggi
- Di kompetisi Eropa, ia menunjukkan refleks dan konsistensi
- Usianya yang 37 tahun membuat ekspektasi lebih ketat
Kritik terhadapnya mungkin lebih dipengaruhi oleh beberapa kesalahan krusial yang terjadi di momen penting, bukan sekadar jumlah penyelamatan.

Leave a Reply