Inter Milan kembali menunjukkan mental juara. Bertandang ke markas Udinese pada pekan ke-21 Serie A 2025-26, skuad asuhan Cristian Chivu sukses meraih kemenangan tipis 1-0, sebuah hasil yang mungkin tak spektakuler di papan skor, namun sangat bernilai dalam perburuan gelar Serie A musim ini.
Kemenangan di Bluenergy Stadium ini membuat Inter Milan tetap kokoh di puncak klasemen, unggul enam poin dari Napoli, sembari menunggu hasil pertandingan AC Milan.
Tiga poin ini bukan sekadar angka, melainkan bukti kematangan tim dalam mengelola laga yang rumit.
Dari ThuLa ke PiLa: Inter Kaya Solusi di Lini Depan
La Gazzetta dello Sport menyoroti satu fakta menarik: Inter kini tak lagi bergantung pada satu pasangan penyerang saja. Jika duet Thuram–Lautaro (ThuLa) sudah mapan, maka kini muncul kombinasi baru Pio Esposito–Lautaro (PiLa) yang kian menjanjikan.
Assist keempat Pio Esposito untuk Lautaro Martinez musim ini, Tiga di Serie A dan satu di Liga Champions, menjadi penentu kemenangan atas Udinese.
Fakta ini menegaskan bahwa Chivu memiliki banyak opsi ofensif, terlebih masih ada Bonny sebagai penyerang keempat.
Dengan kelimpahan solusi di lini depan, muncul pertanyaan: mengapa Inter hanya menang 1-0 melawan Udinese yang tampil pincang tanpa Zaniolo, sosok kreator utama mereka? Di sinilah letak pekerjaan rumah Nerazzurri.
Menang Tipis Terlalu Sering, Risiko yang Tak Bisa Diabaikan
Kemenangan dengan margin satu gol ini merupakan yang ketujuh bagi Inter di Serie A musim ini. Memang menegangkan, penuh drama, dan memacu adrenalin, namun juga menyimpan risiko besar.
Inter kerap menciptakan banyak peluang, tetapi tidak selalu mampu mengonversinya menjadi gol tambahan.
Ada kesenjangan antara jumlah peluang yang diciptakan dan hasil akhir di papan skor. Celah inilah yang masih harus “dikencangkan” oleh Chivu jika ingin Inter benar-benar dominan, bukan hanya efektif.
Chivu Belajar Bertahan Tanpa Kehilangan Identitas
Satu hal penting yang patut digarisbawahi: Cristian Chivu mulai matang secara taktis. Saat Udinese menekan di menit-menit akhir, ia tak ragu mengubah struktur menjadi 5-4-1 yang sangat rapat, bahkan mendorong Akanji naik sebagai pelindung di depan lini pertahanan.
Ini bukan sekadar bertahan membabi buta. Chivu menunjukkan kemampuannya mengawinkan filosofi permainan menyerang dengan pragmatisme hasil, sesuatu yang sangat krusial di Serie A.
Inter tetap dominan dalam penguasaan bola, jarang bermain imbang (baru sekali), dan sangat konsisten menang.
Statistik berbicara lantang: 16 kemenangan dari 21 laga Serie A. Itu adalah laju khas juara.
Langkah Scudetto dan Tantangan Bernama Liga Champions
Kemenangan atas Udinese menjadi awal ideal dari rangkaian laga “minisiklus” melawan Pisa, Cremonese, dan Sassuolo. Di atas kertas, semuanya menguntungkan Inter.
Namun bayang-bayang Liga Champions tak bisa dihindari. Dalam dua pekan ke depan, Inter harus menghadapi Arsenal dan Borussia Dortmund, ujian besar yang berpotensi menguras energi fisik dan mental.
Jika bukan karena gangguan bernama Liga Champions, banyak pihak mungkin sudah berani menyebut laju Inter ini tak terelakkan menuju Scudetto.

Leave a Reply