Chivu Tegaskan Inter Tak Boleh Terlena: “Winter Champion Tak Berarti Apa-Apa, yang Penting jadi Pemuncak Mei”

Inter Milan resmi menyandang status Winter Champions Serie A 2025-26 alias juara musim dingin usai kemenangan tipis 1-0 atas Lecce di San Siro dalam laga tunda pekan ke-16.

Namun bagi Cristian Chivu, pencapaian di paruh musim ini sama sekali bukan tujuan akhir. Pelatih Nerazzurri itu menegaskan bahwa Scudetto hanya ditentukan pada bulan Mei, bukan Januari.

Gol semata wayang Inter dicetak oleh Francesco Pio Esposito pada menit ke-78, memanfaatkan bola muntah hasil tembakan Lautaro Martinez yang ditepis kiper Lecce, Falcone.

Kemenangan ini semakin bernilai karena Napoli, rival utama Inter sebelumnya hanya bermain imbang 0-0 melawan Parma.

Chivu: Scudetto Akan Ditentukan Sampai Detik Terakhir

Dalam wawancaranya bersama DAZN Italia, Chivu mengingatkan bahwa perjalanan musim ini masih panjang dan penuh jebakan.

“Saya pernah meraih gelar Winter Champion sebelumnya, tapi itu tidak berarti apa-apa. Yang penting adalah berada di puncak pada bulan Mei,” ujar Chivu.

Menurutnya, posisi puncak klasemen saat ini hanyalah bukti bahwa Inter kompetitif. Namun ia menegaskan bahwa perburuan Scudetto akan menjadi pertarungan hingga laga terakhir, dengan setiap poin memiliki nilai krusial.

“Ini akan menjadi pertarungan sampai akhir untuk setiap poin,” tambahnya.

Ikatan Emosional Chivu dan Pio Esposito

Momen paling emosional dalam laga ini terjadi setelah gol kemenangan Esposito. Chivu terlihat berlari dari pinggir lapangan untuk memeluk sang penyerang muda, sebuah pemandangan yang menggambarkan hubungan khusus keduanya.

“Saya ingat dia sejak usia tujuh tahun. Kami tumbuh bersama,” ungkap Chivu.

Chivu menekankan bahwa Esposito bukan hanya anak didiknya, tetapi simbol perjalanan panjang dari akademi Inter ke level tertinggi.

Ia juga menyebut Esposito pernah menjadi kapten Inter Primavera, bukti kepemimpinan dan mentalitasnya.

Kemenangan Sulit, Mental Juara Jadi Pembeda

Chivu mengakui laga melawan Lecce sangat rumit, terutama setelah Inter menguras energi dalam laga berat kontra Napoli beberapa hari sebelumnya.

“Bermain lagi 72 jam setelah laga besar adalah salah satu tantangan terberat, saya merasakannya sendiri saat masih menjadi pemain,” jelasnya.

Meski performa babak pertama dinilai kurang tajam, Chivu memuji sikap timnya yang tetap percaya hingga akhir.

“Ini tipe pertandingan yang lebih mudah kalah daripada menang. Para pemain layak mendapat hasil ini.”

Keputusan Kontroversial yang Berbuah Manis

Chivu sempat menuai kritik setelah memberi pemainnya hari libur jelang laga Lecce. Namun ia menanggapi santai keraguan media.

“Mungkin justru kami menang karena hari libur itu,” katanya sambil tersenyum.

Ia menegaskan bahwa setiap keputusan diambil berdasarkan pengalaman, kondisi mental pemain, dan apa yang ia lihat di lapangan latihan, bukan tekanan opini publik.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*